Fiskal & Moneter
BI Rate Diprediksi Naik 25-50 Basis Poin
Kamis, 3 Juli 2008 - 10:09 wib
Candra Setya Santoso - Okezone
Berita Lainnya
-
Rabu, 20/08/2008 13:08
Boediono Harus Bangun Kembali Kepercayaan BI -
Rabu, 20/08/2008 11:08
Fraksi PDIP Sesalkan Politik Anggaran 5 Tahun Terakhir -
Selasa, 19/08/2008 20:08
Sukuk, Alternatif Pendanaan Selain Dolar -
Selasa, 19/08/2008 20:08
Animo Investor Terhadap SBSN Cukup Tinggi -
Selasa, 19/08/2008 18:08
Pinjaman Dalam Negeri Kurangi Bubble Ekonomi -
Selasa, 19/08/2008 18:08
Pemerintah Kucurkan Rp1 T untuk GF -
Selasa, 19/08/2008 15:08
Kasus Aliran Dana BI
Depkeu Bantah PMK 77/2008 Sebagai Tameng -
Selasa, 19/08/2008 15:08
United Tractors Road Show ke Hong Kong -
Selasa, 19/08/2008 14:08
RAPBN 2009 Digerogoti Krisis Listrik -
Selasa, 19/08/2008 13:08
Rapat RAPBN Kupas 3 Hal

Badan Pusat Statistik pada dua hari lalu melansir inflasi bulanan pada Juni 2,46 persen, sedangkan tahun kalender (Januari-Juni) 2008 mencapai 7,37 persen.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, dengan inflasi Juni 2,46 persen dan tahunan 11,03 persen, konsekuensi bagi BI untuk menaikkan BI Rate minimal 25 basis poin menjadi 8,75 persen. Hal ini dilakukan agar selisih suku bunga rupiah dengan inflasi terlalu jauh negatif.
"Apalagi ekspektasi inflasi tahun ini ada di level 11 persen-12 persen. Walaupun BI Rate naik 25 bps, suku bunga riil rupiah masih saja negatif sehingga hal ini bisa membahayakan posisi kurs rupiah," kata Ryan saat dihubungi okezone, Kamis (3/7/2008).
Dalam dua bulan terakhir bank sentral tercatat telah menaikkan BI Rate dua kali, masing-masing 25 basis poin, setelah lima bulan sebelumnya bertahan pada level 8 persen. Bila hari bunga kembali naik menjadi 9 persen, maka akan menjadi posisi tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
Sedangkan, analis perbankan Credit Suisse Mirza Adityaswara mengatakan kenaikan BI Rate 50 basis poin harus dilakukan bank sentral, mengingat tingginya inflasi Juni dan diramalkan berlanjut bulan depan.
"Inflasi Juni adalah 11,03 persen year on year, sehingga bunga sebaiknya naik 50 basis poin," paparnya kemarin.
Mirza menambahkan, inflasi di luar Jawa sebagian juga disebabkan tingginya sisi permintaan, dan bukan hanya karena kenaikan harga BBM dan pangan. Dia juga memberikan range kenaikan 50 basis poin hingga 100 basis poin. Kenaikan itu dianggap masih aman bagi dunia usaha dan perbankan. (jri)


