JAKARTA - Rencana penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Hotel Mandarine Regency Tbk, kembali tertunda. Meski tertunda hingga sebulan, perseroan tak perlu merubah laporan keuangannya.
"Mereka masih bisa menggunakan laporan keuanganya. Saat menyampaikan prospektus awal mereka menggunakan laporan keuangan bulan Januari," jelas Kepala Biro Penilaian Keuangan Perusahaan Sektor Jasa Bapepam-LK M Noor Rachman di Jakarta, Kamis (3/7/2008).
Noor menambahkan, pihak Mandarine hotel sudah melengkapi dokumen yang diminta Bapepam, namun penelaahan belum selesai dilakukan sehingga ijin efektif belum bisa dipastikan. Ketika ditanya lebih lanjut mengenai penyebab tertundanya ijin efektif, Noor enggan menjawab.
Awalnya perseroan mengharapkan penyataan efektif dari Bapepam-LK dapat keluar 12 Mei lalu, sehingga perseroan dapat listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 23 Mei 2008. Setelah sempat tertunda dari target pertama perseroan masih optimistis, pernyataan efektif keluar pada awal Juni namun hingga akhir Juni ijin efektif belum juga keluar.
Sebelumnya Presdir Hotel Mandarine Regency Djonny Mardjuki mengungkapkan perseroan mengaku siap menyelesaikan setiap masalah administrasi yang diminta Bapepam.
Seperti diketahui, Hotel Mandarine Regency menawarkan 24,79 persen sahamnya kepada publik yang terdiri dari 300 juta saham biasa dan 198 juta Waran Seri I. Sementara dana yang diperoleh dari IPO itu dimanfaatkan sekitar 50 persen untuk renovasi kamar dan upgrade fasilitas hotel, 30 persen untuk pengembangan shopping arcade, dan 20 persen untuk modal kerja. Sedangkan dana dari pelaksanaan Waran Seri I sekitar 50 persen untuk menurunkan pokok utang perseroan kepada Bank Mandiri senilai Rp60 miliar, dan sisanya untuk menambah modal kerja.
Ditempat terpisah Presiden Investment Banking of Overseas Securities Rudy Tuahunse mengatakan, harga IPO Mandarine ditetapkan pada Rp110, dari harga yang ditawarkan sebesar Rp110-150. Dengan harga itu, maka IPO itu akan meraup dana Rp33 miliar. Menurutnya selama proses book building, mayoritas yang memesan saham Mandarine adalah investor lokal. "Sambutannya lumayan," tuturnya.(ade)
(Setiawan Ananto/Sindo/rhs)