Finance
BI Rate Pengaruhi Pelemahan Rupiah
Jum'at, 4 Juli 2008 - 17:15 wib
Candra Setya Santoso - Okezone
Berita Lainnya
-
Senin, 06/10/2008 15:10
Krisis Melanda, Buy Back Jalan Terus -
Senin, 06/10/2008 15:10
BUMI Cairkan Pinjaman Credit Suisse USD50 Jt -
Senin, 06/10/2008 15:10
Imbas Krisis Finansial Global
Kinerja Mandiri Investasi Tak Terpengaruh -
Senin, 06/10/2008 14:10
Kadin: Pengereman Kredit Bentuk Pengetatan Moneter -
Senin, 06/10/2008 14:10
Antam Ancang-Ancang Raih Pinjaman USD42,2 Juta -
Senin, 06/10/2008 13:10
Rumor Bursa
Bin Laden Bisa Keruk Untung dari Pembelian BNBR -
Senin, 06/10/2008 13:10
Powertel Lakukan Pengajuan Ulang Prospektus IPO -
Senin, 06/10/2008 12:10
IHSG Sesi I Merosot 100 Poin -
Senin, 06/10/2008 11:10
Rupiah Terjun Bebas Dekati Rp9.600 -
Senin, 06/10/2008 10:10
Saham BII Langsung Pimpin Top Gainer

Di pasar spot antarbank Jakarta, rupiah ditutup di posisi 9.207 per dolar AS, melemah dua poin dibandingkan penutupan Kamis kemarin di posisi 9.205 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipicu kebijakan Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 8,75 persen, kemarin.
Analis valas Rahmat Wibisono mengatakan, Senin pekan depan rupiah akan menguat terbatas atas pelemahan USD terhadap mata uang kuat euro.
Bank Sentral Eropa (ECB) kemungkinan besar akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25 persen pada Kamis waktu Eropa. Hal itu dilakukan untuk mengatasi lonjakan inflasi akibat membumbungnya harga minyak.
Adapun inflasi Eropa Juni melesat naik menjadi 4 persen year on year di atas target inflasi ECB yang hanya sebesar 2 persen. Dolar pun diprediksi terus terpuruk atas euro ketika para trader melakukan aksi buy terhadap mata uang gabungan negara Uni Eropa tersebut.
Sedangkan harga minyak dunia yang sempat menyentuh level tertingginya di USD146 per barel juga menghimpit pergerakan dolar. Lonjakan tersebut disebabkan beberapa hal, seperti spekulasi harga minyak yang tinggi, tekanan dolar terhadap mata uang kuat euro, dan turunnya cadangan minyak AS.
Rupiah juga mendapat dukungan dengan masuknya sejumlah investor asing, terutama dari kawasan Timur Tengah dan Australia yang berminat meningkatkan dananya di dalam negeri yang didukung tingginya selisih bunga rupiah terhadap dolar AS. (jri)

