ekonomi global
Shell Akan Hentikan Operasi di Zimbabwe
Minggu, 6 Juli 2008 - 11:26 wib
Mochammad Wahyudi - Okezone
Berita Lainnya
-
Selasa, 19/08/2008 08:08
Badai Fay Reda, Harga Minyak Juga Melandai -
Senin, 18/08/2008 16:08
Keuntungan BHP Billiton USD15,4 Miliar -
Senin, 18/08/2008 14:08
Badai Fay Picu Kenaikan Harga Minyak -
Senin, 18/08/2008 12:08
Irak bebaskan Kontrak Minyak Jangka Pendek -
Sabtu, 16/08/2008 16:08
Cadangan Minyak Nigeria Sentuh 33,6 Miliar Barel
LONDON - Perusahaan minyak raksasa Belanda, Shell, kemungkinan besar akan berhenti beroperasi di Zimbabwe.
Berdasarkan surat kabar Inggris, The Observer, indikasi akan hengkangnya Shell tersebut terlihat saat Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, bulan lalu, diminta meninjau kembali keberadaan British Petroleum (BP) di Zimbabwe. Pasalnya, negara di selatan Afrika itu saat ini sedang dalam pertikaian paska terpilihnya presiden incumbent Robert Mugabe dalam pemilihan ulangan.
Ini yang kemungkinan membuat Shell saat ini ikut latah mertimbangkan keberadaannya di Zimbabwe Pasalnya, Shell memiliki sejumlah saham dalam usaha ritel yang dioperasikan oleh Tesco, yang notabene pesaing BP di Zimbabwe.
Menurut penuturan pihak Shell, mereka menyuplai sekira 74 stasiun bahan bakar di Zimbabwe. Mereka mengancam akan menghentikan menyalurkan produk dari Zimbabwe jika instabilitas politik masih terus berlanjut.
Hal senada juga sempat diutarakan Gordon saat berbicara di depan DPR Inggris, Juni lalu. Menurutnya, Inggris memang tidak ingin terlibat lebih jauh dalam konflik yang terjadi di Zimbabwe. "Kami tidak ingin memerparah kondisi warga Zimbabwe. Tapi ketika bisnis bisa membantu rezim Mugabe. Mereka harus memertimbangkan itu," ucapnya, seperti dikutip AFP, Minggu (6/7/2008).
Untuk informasi, berdasarkan studi dari London-based analysts Ethical Investment Research Inggris adalah mantan penguasa yang saat ini berubah wujud menjadi investor asing terbesar di Zimbabwe. (mbs)
Berdasarkan surat kabar Inggris, The Observer, indikasi akan hengkangnya Shell tersebut terlihat saat Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, bulan lalu, diminta meninjau kembali keberadaan British Petroleum (BP) di Zimbabwe. Pasalnya, negara di selatan Afrika itu saat ini sedang dalam pertikaian paska terpilihnya presiden incumbent Robert Mugabe dalam pemilihan ulangan.
Ini yang kemungkinan membuat Shell saat ini ikut latah mertimbangkan keberadaannya di Zimbabwe Pasalnya, Shell memiliki sejumlah saham dalam usaha ritel yang dioperasikan oleh Tesco, yang notabene pesaing BP di Zimbabwe.
Menurut penuturan pihak Shell, mereka menyuplai sekira 74 stasiun bahan bakar di Zimbabwe. Mereka mengancam akan menghentikan menyalurkan produk dari Zimbabwe jika instabilitas politik masih terus berlanjut.
Hal senada juga sempat diutarakan Gordon saat berbicara di depan DPR Inggris, Juni lalu. Menurutnya, Inggris memang tidak ingin terlibat lebih jauh dalam konflik yang terjadi di Zimbabwe. "Kami tidak ingin memerparah kondisi warga Zimbabwe. Tapi ketika bisnis bisa membantu rezim Mugabe. Mereka harus memertimbangkan itu," ucapnya, seperti dikutip AFP, Minggu (6/7/2008).
Untuk informasi, berdasarkan studi dari London-based analysts Ethical Investment Research Inggris adalah mantan penguasa yang saat ini berubah wujud menjadi investor asing terbesar di Zimbabwe. (mbs)


