SANUR - Kalangan industri pariwisata di Bali dibuat cemas atas rencana dua maskapai penerbangan asing, Qantas dan Continental Airlines. Sebab, keduanya tidak lagi melayani rute penerbangan ke Pulau Dewata, pada Oktober mendatang. Penutupan tersebut dapat membuat angka kunjungan wisatawan kembali anjlok.
"Kami dan Dinas Pariwisata akan bertemu untuk menyampaikan protes kepada Angkasa Pura dan Menteri Negara BUMN," kata Ketua Bali Tourism Board IB Ngurah Wijaya, di sela-sela persiapan acara Sanur Village Festival di Yayasan Pembangunan Sanur, Jalan Danau Buyan, Sanur, Bali, Senin (7/7/2008).
Ngurah membenarkan pihaknya telah menerima surat pemberitahuan dari pihak Qantas dan Continental Airlnines. Dimana dalam surat tersebut dinyatakan, adanya pilihan menutup jalur penerbangan internasional ke Bali terkait melambungnya harga minyak dunia yang di luar kendali.
Selain itu, Qantas dari Australia dan Continental Airlines yang merupakan satu-satunya maskapai yang melayani jalur penerbangan dari Amerika Serikat ke Bali mengeluhkan tingginya tarif layanan yang diterapkan pengelola bandara di Indonesia.
Ngurah mengatakan, jika rencana tersebut dijalankan, dipastikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali tahun ini akan merosot drastis, dibanding kunjungan tahun lalu yang sebanyak 4,7 juta orang.
Australia juga selama ini menjadi penyumbang kedua daftar wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Untuk berlibur ke Pulau Dewata, para wisatawan ini sebagian besar menumpang pesawat Qantas. "Jika Continental tidak terbang ke Bali, kita juga akan kehilangan pasar wisatawan Amerika pascadicabutnya travel warning oleh pemerintah AS," pungkasnya. (ade)
(Miftachul Chusna/Sindo/rhs)