Strategi Pemasaran
Strategi Memanfaatkan Fluktuasi Pasar
Senin, 7 Juli 2008 - 09:49 wib
Berita Lainnya

Artikel ini Disajikan oleh Tim BEI
Harga minyak terus mengalami kenaikan. Bersamaan dengan itu hampir seluruh bursa di dunia mengalami penurunan, pasar dilanda bearish yang belum juga berakhir. Kenaikan harga komoditas turut juga memicu kekhawatiran dalam jangka pendek yang dapat mengganggu operasional perusahaan-perusahaan go public. Dan tak pelak lagi, pelaku pasar modal di seantero dunia sepakat bahwa kenaikan harga minyak itu dapat mengganggu kinerja perusahaan, mulai dari kenaikan biaya produksi, hingga ketidakmampuan konsumen menyerap jasa dan produk yang ditawarkan. Ekspektasi investor saham benar-benar negatif.

Di Indonesia, kecemasan serupa juga tampak terjadi. Indeks harga saham gabungan BEI terus turun. Sepekan lalu harga minyak kembali mengalami kenaikan hingga USD140 per barrel. Naiknya harga minyak itu kembali menjadi sentimen negatif bagi kinerja bursa. Pasar saham dunia kembali mengalami koreksi harga, tak terkecuali dengan aktivitas transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), kendati dengan penurunan tidak setajam di Wall Street dan bursa regional lainnya.

Meski pasar dilanda kecemasan harga minyak, namun investor tampak tetap melanjutkan investasinya di pasar saham. Kendati pasar terus turun, namun nilai dan volume transaksi tak ada yang berubah. Kalau pun berubah tidak begitu signifikan. Nilai transaksi berada pada angka Rp5 hingga Rp7 triliunan, dengan volume saham yang berpindahtangan tetap pada angka yang tak jauh berbeda ketika kondisi pasar normal.

Heran? Tentu tidak. Sebab berinvestasi di pasar saham memang berbeda dengan investasi di sektor lainnya. Kalau pada sektor lain, atau sektor riil, investasi dipastikan akan bisa mencetak untung apabila pasar tersebut tengah bullish. Contoh sederhananya adalah pasar properti, begitu pasar tengah booming (bullish istilah pasar modalnya) maka para pemodal yang menginvestasikan dananya di bidang properti; rumah, tanah, gedung dan sebagainya akan bisa mendapatkan keuntungan. Namun begitu pasar tengah turun, jangan harap properti itu bisa dengan cepat laku terjual.

Di bursa saham kondisinya tidak begitu. Ketika pasar bullish (pasar mengalami kenaikan) maupun pasar dalam kondisi bearish (mengalami penurunan/atau crash sekalipun) pemodal saham tetap berpeluang memperoleh keuntungan. Investor di pasar modal selalu memiliki strategi-strategi khusus dalam mengoptimalkan investasinya di bursa saham ini. Ibaratnya ada seribu satu strategi dan kiat yang bisa diterapkan guna membukukan keuntungan di pasar saham.

Strategi yang diterapkan tentunya tidak sama pada masing-masing investor dan manajer investasi ketika pasar tengah berlangsung. Yang membedakan pola dari masing-masing investor dalam menentukan strategi investasinya di pasar modal akan sangat tergantung pada maksud dan tujuan masing-masing investor saham tersebut. Ada investor yang melakukan investasi saham dengan cara setelah membeli kemudian ia menyimpannya hingga waktu yang lama, tapi ada pula yang berinvestasi saham untuk kepentingan transaksi. Jadi dengan aktivitas transaksi tersebut ia berharap membukukan pendapatan. Tentunya bagi investor yang membeli saham kemudian menyimpannya untuk waktu yang panjang, sudah barang tentu kondisi pasar yang turun pada akhir-akhir ini, karena masalah global sama sekali tidak ada masalah, tidak merasa khawatir dan tak perlu merasa cemas. Terlebih bagi mereka yang meyakini bahwa kondisi harga minyak, resesi ekonomi dan sebagainya sifatnya tidak permanen (hanya sementara saja). Tapi bagi investor yang berinvestasi saham dengan tujuan aktif melakukan transaksi, tentunya penurunan dan kenaikan pasar akan diikuti dengan aktivitas transaksinya. Dengan kata lain apabila terus melakukan transaksi ia merasa yakin bisa membukukan pundi-pundi uang guna meningkatkan investasi dan keuntungan.

Proses Average down

Average down merupakan salah satu istilah teknis dalam investasi di pasar modal. Average down ini secara sederhana dapat diartikan sebagai rata-rata penurunan, atau menurunkan rata-rata. Dalam konteks pasar modal average down ini merupakan sebuah proses investasi (pembelian) saham yang dilakukan investor terhadap saham ketika harga saham yang akan dibeli mengalami penurunan. Tujuan melakukan average down ini tidak lain adalah untuk mempertahankan dan memaksimalkan nilai dari portofolio yang dibuat investor. Diasumsikan suatu saat investor ingin menempatkan 1000 lembar saham xyz pada portofolionya. Lalu ia membeli saham tersebut dengan harga Rp1.000 per lembar sehingga dana yang dikeluarkan sebanyak Rp1 juta.

Beberapa hari berselang, saham tersebut mengalami penurunan menjadi Rp 500 per lembar. Berarti nilai portofolio investor tersebut atas saham xyz telah mengalami penurunan menjadi Rp 500 ribu saja. Karenanya agar nilai saham xyz tetap sama (nilainya bertahan dalam portofolio) investor tersebut kemudian membeli kembali sebanyak 1000 lembar lagi pada harga Rp 500 yang berarti ia mengeluarkan dana Rp 500 ribu lagi. Dari sisi nilai dana yang telah ditanamkan berarti ada untuk mempertahankan agar nilai saham xyz tetap pada posisi Rp 1 juta, investor telah mengeluarkan dana sebanyak Rp 1,5 juta, namun dengan jumlah saham yang porsinya kini menjadi 2000 lembar. Kalau dikemudian hari harga saham xyz mengalami kenaikan kembali menjadi Rp 1.000 per lembar, berarti investor tersebut berhasil mendapatkan keuntungan yang baik. Yakni 2000 lembar saham dikalikan Rp 1000 menjadi Rp 2 juta. Nilai Rp 2 juta ini dikurangi oleh modal yang dikeluarkan yakni Rp 1,5 juta sehingga terdapat keuntungan sebesar Rp 500 ribu.

Terkait dengan average down ini, investor juga bisa melakukan transaksi baik terhadap satu saham saja maupun terhadap beberapa saham dalam portofolio. Yang patut diperhatikan dalam membeli saham secara rata-rata penurunan (average down) ini adalah adanya keyakinan bahwa harga saham atau pasar tersebut memang tengah benar-benar mengalami trend turun. Untuk itu investor yang akan menerapkan strategi average down ini perlu memantau dan memiliki pengetahuan yang tinggi atas saham-saham yang strategi investasinya dilakukan secara average down ini. Ada beberapa faktor yang perlu diketahui sebelum mengambil strategi average down ini, pertama adalah perlu diketahuinya kinerja saham. Apakah saham tersebut sudah undervalue atau overvalue. Untuk mengetahuinya tidak ada jalan lain yang dilakukan investor selain mempelajari perusahaan tersebut melalui laporan keuangan, serta seluruh past performa dari kinerja harga saham emiten itu (historical data).

Kedua, yang juga harus diketahui adalah tentang karakteristik saham tersebut masuk kategori saham pertumbuhan, saham cyclical atau bersiklus (saham yang mengikuti perkembangan ekonomi dan kondisi pasar), saham recovery (saham pertumbuhan) atau saham spekulasi (speculative stock). Faktor-faktor tersebut merupakan aturan dasar yang harus diketahui investor sebelum melakukan transaksi atau investasi di pasar modal. Dan ketiga, yang juga tidak kalah penting yang harus diketahui investor agar penerapan average down ini bisa berhasil adalah sikap optimis dan sabar dalam berinvestasi. Sebab dalam investasi pasar modal sebuah strategi tidak akan menjamin keberhasilan investasi secara terus menerus. Sebab kalau satu strategi bisa berhasil secara terus menerus sudah barang tentu seluruh orang akan mengadopsinya. Itu artinya orang lain juga akan menggunakan, sehingga strategi yang asli akan tergerogoti. Kalau hal itu terjadi maka bersiaplah atas strategi yang lain, misalnya menerapkan startegi saham berpindah, atau menggunakan strategi membeli saham kemudian menyimpan, serta banyak lagi strategi yang bisa dilakukan. Karena itu guna menghindari kerugian dan kesalahan dalam memprediksi harga saham, maupun pasar secara umum, investor perlu melakukan konsultasi dengan broker atau para analis saham. (tim bei) (//mbs)
250x208 250x250