Sektor Riil


Industri Ritel Bisa Hemat 20%

Senin, 14 Juli 2008 - 17:53 wib
text TEXT SIZE :  

JAKARTA - Industri ritel menyatakan penghematan energi bisa mengurangi pengeluaran 10-20 persen.

"Industri ritel sejak tahun 2005 lalu telah melakukan penghematan energi agar industri dapat efisien dan tetap menguntungkan," ujar Ketua Harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta di Jakarta, Senin (14/7/2008).

Tutum mengatakan, seluruh pelaku ritel tidak keberatan dengan adanya himbauan pemerintah untuk melakukan penghematan. Selain itu, ia menyatakan dampak dari penghematan energi itu akan berpengaruh terhadap sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

Dia mengatakan sektor tersebut akan kesulitan untuk mendapatkan bahan bakar sebagai pembangkit. Sedangkan untuk industri besar, tidak akan banyak pengaruhnya sebab memiliki jenset dan bisa membeli bahan bakar sendiri. "UKM akan dituduh melakukan penimbunan jika mereka membeli solar dalam jumlah besar untuk industri," tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Departemen Perdagangan Ardiansyah Parman mengatakan pihaknya sudah melakukan penghematan seperti mengurangi pengunaan lampu dan pendingin ruangan. Menurutnya, himbauan untuk penghematan listrik juga telah diberikan kepada pelaku usaha agar melakukan langkah serupa. "Sejauh ini kami telah melakukan penghematan energi sampai 20 persen," ungkapnya.

Sedangkan pengamat ekonomi Aviliani mengatakan rencana pemerintah memberlakukan pembatasan energi tidak akan efektif. Alasannya, tanpa ada rencana pembatasan listrik, pelaku industri sudah melakukan penghematan. "Pemerintah juga tidak memberikan insentif kepada pelaku usaha yang memiliki jenset dan pembangkit sendiri," ungkapnya. (ade) (Eko Budiono /Sindo/rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4