kolom ekonomi
Apakah Inflasi Kita Cost Pushed?
Senin, 14 Juli 2008 - 10:47 wib
Berita Lainnya
-
Selasa, 02/09/2008 08:09
Rencanakan Sejahtera di Hari Tua -
Senin, 01/09/2008 16:09
Menjadi Minoritas di Pesawat Garuda -
Senin, 01/09/2008 07:09
Saatnya Mengubah Kontrak Pertambangan -
Selasa, 26/08/2008 08:08
Wealth Management Pribadi -
Senin, 25/08/2008 13:08
Angka PDB dan Optimisme Perekonomian -
Kamis, 21/08/2008 08:08
Mengoreksi Pembiayaan UMKM -
Rabu, 20/08/2008 10:08
Neoliberalisme vs Neososialisme -
Selasa, 19/08/2008 08:08
Pidato Kenegaraan, Antara Harapan dan Kenyataan
INFLASI menjadi fenomena dunia belakangan ini. Kenaikan harga minyak dan pangan dunia yang "menggila" bisa dikatakan sebagai penyebab utama.
Itulah mengapa orang berpendapat bahwa inflasi semacam ini dipicu kenaikan ongkos serta harga bahan baku, sehingga layak disebut cost push inflation. Keadaan ini, lantaran dibarengi kecenderungan terjadinya potensi resesi di berbagai negara, menimbulkan apa yang disebut dengan "stagflasi", yaitu keadaan ekonomi ketika inflasi terjadi berbarengan dengan pelambatan ekonomi.
Keadaan semacam ini selalu saja bersifat dilematis bagi para pengambil keputusan di negara yang terkena. Dalam keadaan perekonomian dunia yang karut-marut semacam itu, apa yang dimiliki oleh sebagian penduduk Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai oase. Kenapa demikian?
Memang benar bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) maupun harga pangan meningkat, namun penghasilan sebagian (cukup besar) penduduk juga mengalami peningkatan yang tidak kalah tinggi. Sumber utama penghasilan mereka, yaitu karet, timah, kelapa sawit, dan komoditas lain meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia maupun harga pangan lain.
Inilah yang akhirnya menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian (sebagian) Indonesia, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Daerah-daerah inilah yang akhirnya menjadi sumber "permintaan" baru bagi berbagai produk konsumen, baik yang tahan lama (durables) seperti mobil, sepeda motor, alat rumah tangga seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan sebagainya.
Maupun yang bersifat kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, sampo, pasta gigi, dan lainnya. Keadaan ini barangkali mirip dengan apa yang terjadi di negara-negara penghasil minyak seperti negara-negara Timur Tengah maupun Rusia. Kenaikan permintaan berbagai produk tersebut akhirnya memberikan manfaat besar bagi perkembangan industri di Tanah Air.
Sebagaimana kita ketahui, daerah sentra industri umumnya berada di Jawa. Itulah sebabnya, meski dengan tingkat kecepatan yang berbeda, perekonomian Pulau Jawa juga ikut berkembang. Perkembangan tersebut melahirkan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi bagi perekonomian secara keseluruhan.
Sumber Inflasi di Indonesia
Selalu saja kita mencoba menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa inflasi di Indonesia juga disebabkan oleh kenaikan harga bahan-bahan seperti minyak bumi, harga pangan, dan sebagainya yang semuanya diimpor.
"Imported inflation" semacam ini diperkuat jika pada saat yang bersamaan rupiah melemah terhadap mata uang lain. Jadilah inflasi di luar Indonesia tersebut diterjemahkan dalam rupiah menjadi lebih tinggi lagi. Jika inflasinya bersifat "cost push" seperti itu, akan timbul perdebatan mengenai efektivitas penerapan kebijakan moneter seperti menaikkan suku bunga.
Jika kita melihatnya lebih jeli, barangkali inflasi di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor "cost push". Ada unsur lain yang bisa menjelaskan sumber inflasi yang terjadi dewasa ini. Di Indonesia, sebagai suatu negara yang memiliki keadaan geografis kepulauan, bahkan faktor cuaca pun bisa menimbulkan inflasi. Angin kencang yang menyebabkan ombak tinggi akan mempersulit distribusi barang dan makanan ke pulau-pulau lain.
Akibatnya, kelangkaan barang di pulau tersebut akan menyebabkan kenaikan harga jauh melampaui pulau utamanya. Keadaan ini menghasilkan inflasi. Secara keseluruhan, inflasi semacam ini pada akhirnya menghasilkan inflasi alami atau "natural rate of inflation" yang untuk Indonesia mungkin ada di sekira 3-4 persen.
Inilah sebabnya upaya untuk menargetkan inflasi di bawah level tersebut selalu saja kembali. Sumber lain yang menyebabkan inflasi tinggi dewasa ini selain unsur "cost push" dan inflasi alami adalah adanya elemen inflasi karena kenaikan permintaan. Jika kita melihat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal (PDB atas dasar harga yang berlaku), kenaikannya selama kuartal I 2008 adalah 22,5 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Keadaan ini juga terjadi pada 2007 yang tumbuh 18,5 persen, tahun 2006 19,8 persen, dan 2005 22,5 persen. Pertumbuhan PDB nominal tersebut jauh melampaui pertumbuhan ekonomi riil. Ini berarti inflasi secara keseluruhan (atau dikenal sebagai GDP deflator) mengalami kenaikan tinggi. Inflasi inilah yang sebetulnya berkaitan erat dengan tingginya permintaan. Apakah fenomena yang ditunjukkan oleh hal ini?
Pada waktu-waktu tertentu, permintaan suatu merek mobil meningkat tajam sehingga menimbulkan antrean pembelian atau inden. Jika kita ingin membeli secara segera tanpa antre, kita akan dikenai biaya tambahan ("upping") yang bisa mencapai 2-5 persen dari harga aslinya. Demikian juga krisis listrik yang terjadi dewasa ini, saya rasa lebih menjelaskan tajamnya peningkatan permintaan listrik sehingga sisa kapasitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.
Adanya sedikit saja gangguan terhadap satu atau dua pembangkit listrik akan menyebabkan pemadaman yang meluas karena permintaan sudah melampaui kapasitas. Fenomena inilah yang akhirnya menjelaskan munculnya inflasi karena tarikan permintaan ("demand pull inflation"). Dengan melihat fenomena yang terjadi itu, dapat disimpulkan bahwa inflasi yang terjadi di Indonesia tidaklah sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
Tanpa kita sadari, perekonomian Indonesia sebetulnya sedang kepanasan, meskipun kita sering mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih terpuruk atau bahkan sektor riil belum bergerak. Kesalahan melakukan identifikasi mengenai keadaan ekonomi menyebabkan kesalahan juga membuat "judgment" dalam melakukan investasi, termasuk di antaranya investasi di pembangkit tenaga listrik. Karena selalu dibombardir dengan pernyataan bahwa perekonomian terpuruk, keputusan untuk melakukan investasi pun menjadi terpengaruh.
Langkah Mengatasi
Bukanlah hal mudah untuk melakukan langkah koreksi guna mengatasi permasalahan ekonomi semacam ini. Secara naluriah kita selalu berpikir bahwa untuk mengatasi inflasi semacam ini suku bunga harus dinaikkan. Itu pula yang telah dilakukan Bank Indonesia selama tiga kali sidangnya.
Kendati demikian, upaya untuk mendinginkan suhu perekonomian, dengan kebijakan moneter yang ketat tersebut, haruslah disertai pertimbangan mengenai peningkatan kapasitas industri dan infrastrukturnya. Karena itu, dalam mendinginkan perekonomian tersebut perlu dipertimbangkan tingkat suku bunga yang masih memungkinkan pengusaha, baik BUMN maupun swasta, untuk tetap berani berinvestasi.
Jika tidak, persoalan kapasitas ini akan terus membayangi kita sehingga krisis yang terjadi masih akan terus berlanjut. Terlebih, karena banyak daerah di Indonesia masih akan terus menghasilkan pertumbuhan yang tinggi, meskipun terjadi pengetatan kebijakan moneter.
Dengan melihat perkembangan tersebut, kita sungguh berharap bahwa Bank Indonesia cukup arif dalam menerapkan kebijakan moneter. Suatu langkah yang bersifat "overkill" rasanya justru akan menimbulkan lebih banyak mudarat daripada manfaat. Sementara itu, Bank Indonesia juga masih bisa memainkan instrumen yang lain. Nilai rupiah yang menguat, misalnya, akan mengurangi dampak "imported inflation".
Keadaan ini akan mengurangi ketegangan peningkatan harga-harga sehingga pada akhirnya tekanan ke atas pun bisa dibatasi. Langkah ini sering digunakan oleh Singapura yang menerapkan "strong currency policy".
Saya memperhatikan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini rupiah mulai menguat. Bahkan rupiah mampu menembus batas bawah dari Rp9.200. Dengan melihat perkembangan tersebut, barangkali kebutuhan untuk membebankan semua langkah koreksi pada suku bunga juga bisa dikurangi. Saya selalu percaya Bank Indonesia mampu bertindak arif. Mudah-mudahan permasalahan ini segera berlalu. (*)
CYRILLUS HARINOWO
Rektor ABFII Perbanas (//mbs)
Itulah mengapa orang berpendapat bahwa inflasi semacam ini dipicu kenaikan ongkos serta harga bahan baku, sehingga layak disebut cost push inflation. Keadaan ini, lantaran dibarengi kecenderungan terjadinya potensi resesi di berbagai negara, menimbulkan apa yang disebut dengan "stagflasi", yaitu keadaan ekonomi ketika inflasi terjadi berbarengan dengan pelambatan ekonomi.
Keadaan semacam ini selalu saja bersifat dilematis bagi para pengambil keputusan di negara yang terkena. Dalam keadaan perekonomian dunia yang karut-marut semacam itu, apa yang dimiliki oleh sebagian penduduk Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai oase. Kenapa demikian?
Memang benar bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) maupun harga pangan meningkat, namun penghasilan sebagian (cukup besar) penduduk juga mengalami peningkatan yang tidak kalah tinggi. Sumber utama penghasilan mereka, yaitu karet, timah, kelapa sawit, dan komoditas lain meningkat tajam dalam beberapa waktu terakhir sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia maupun harga pangan lain.
Inilah yang akhirnya menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian (sebagian) Indonesia, terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Daerah-daerah inilah yang akhirnya menjadi sumber "permintaan" baru bagi berbagai produk konsumen, baik yang tahan lama (durables) seperti mobil, sepeda motor, alat rumah tangga seperti televisi, lemari es, mesin cuci, dan sebagainya.
Maupun yang bersifat kebutuhan sehari-hari, seperti sabun, sampo, pasta gigi, dan lainnya. Keadaan ini barangkali mirip dengan apa yang terjadi di negara-negara penghasil minyak seperti negara-negara Timur Tengah maupun Rusia. Kenaikan permintaan berbagai produk tersebut akhirnya memberikan manfaat besar bagi perkembangan industri di Tanah Air.
Sebagaimana kita ketahui, daerah sentra industri umumnya berada di Jawa. Itulah sebabnya, meski dengan tingkat kecepatan yang berbeda, perekonomian Pulau Jawa juga ikut berkembang. Perkembangan tersebut melahirkan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi bagi perekonomian secara keseluruhan.
Sumber Inflasi di Indonesia
Selalu saja kita mencoba menyederhanakan persoalan dengan mengatakan bahwa inflasi di Indonesia juga disebabkan oleh kenaikan harga bahan-bahan seperti minyak bumi, harga pangan, dan sebagainya yang semuanya diimpor.
"Imported inflation" semacam ini diperkuat jika pada saat yang bersamaan rupiah melemah terhadap mata uang lain. Jadilah inflasi di luar Indonesia tersebut diterjemahkan dalam rupiah menjadi lebih tinggi lagi. Jika inflasinya bersifat "cost push" seperti itu, akan timbul perdebatan mengenai efektivitas penerapan kebijakan moneter seperti menaikkan suku bunga.
Jika kita melihatnya lebih jeli, barangkali inflasi di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor "cost push". Ada unsur lain yang bisa menjelaskan sumber inflasi yang terjadi dewasa ini. Di Indonesia, sebagai suatu negara yang memiliki keadaan geografis kepulauan, bahkan faktor cuaca pun bisa menimbulkan inflasi. Angin kencang yang menyebabkan ombak tinggi akan mempersulit distribusi barang dan makanan ke pulau-pulau lain.
Akibatnya, kelangkaan barang di pulau tersebut akan menyebabkan kenaikan harga jauh melampaui pulau utamanya. Keadaan ini menghasilkan inflasi. Secara keseluruhan, inflasi semacam ini pada akhirnya menghasilkan inflasi alami atau "natural rate of inflation" yang untuk Indonesia mungkin ada di sekira 3-4 persen.
Inilah sebabnya upaya untuk menargetkan inflasi di bawah level tersebut selalu saja kembali. Sumber lain yang menyebabkan inflasi tinggi dewasa ini selain unsur "cost push" dan inflasi alami adalah adanya elemen inflasi karena kenaikan permintaan. Jika kita melihat pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nominal (PDB atas dasar harga yang berlaku), kenaikannya selama kuartal I 2008 adalah 22,5 persen dibandingkan kuartal yang sama tahun sebelumnya.
Keadaan ini juga terjadi pada 2007 yang tumbuh 18,5 persen, tahun 2006 19,8 persen, dan 2005 22,5 persen. Pertumbuhan PDB nominal tersebut jauh melampaui pertumbuhan ekonomi riil. Ini berarti inflasi secara keseluruhan (atau dikenal sebagai GDP deflator) mengalami kenaikan tinggi. Inflasi inilah yang sebetulnya berkaitan erat dengan tingginya permintaan. Apakah fenomena yang ditunjukkan oleh hal ini?
Pada waktu-waktu tertentu, permintaan suatu merek mobil meningkat tajam sehingga menimbulkan antrean pembelian atau inden. Jika kita ingin membeli secara segera tanpa antre, kita akan dikenai biaya tambahan ("upping") yang bisa mencapai 2-5 persen dari harga aslinya. Demikian juga krisis listrik yang terjadi dewasa ini, saya rasa lebih menjelaskan tajamnya peningkatan permintaan listrik sehingga sisa kapasitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.
Adanya sedikit saja gangguan terhadap satu atau dua pembangkit listrik akan menyebabkan pemadaman yang meluas karena permintaan sudah melampaui kapasitas. Fenomena inilah yang akhirnya menjelaskan munculnya inflasi karena tarikan permintaan ("demand pull inflation"). Dengan melihat fenomena yang terjadi itu, dapat disimpulkan bahwa inflasi yang terjadi di Indonesia tidaklah sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
Tanpa kita sadari, perekonomian Indonesia sebetulnya sedang kepanasan, meskipun kita sering mengatakan bahwa perekonomian Indonesia masih terpuruk atau bahkan sektor riil belum bergerak. Kesalahan melakukan identifikasi mengenai keadaan ekonomi menyebabkan kesalahan juga membuat "judgment" dalam melakukan investasi, termasuk di antaranya investasi di pembangkit tenaga listrik. Karena selalu dibombardir dengan pernyataan bahwa perekonomian terpuruk, keputusan untuk melakukan investasi pun menjadi terpengaruh.
Langkah Mengatasi
Bukanlah hal mudah untuk melakukan langkah koreksi guna mengatasi permasalahan ekonomi semacam ini. Secara naluriah kita selalu berpikir bahwa untuk mengatasi inflasi semacam ini suku bunga harus dinaikkan. Itu pula yang telah dilakukan Bank Indonesia selama tiga kali sidangnya.
Kendati demikian, upaya untuk mendinginkan suhu perekonomian, dengan kebijakan moneter yang ketat tersebut, haruslah disertai pertimbangan mengenai peningkatan kapasitas industri dan infrastrukturnya. Karena itu, dalam mendinginkan perekonomian tersebut perlu dipertimbangkan tingkat suku bunga yang masih memungkinkan pengusaha, baik BUMN maupun swasta, untuk tetap berani berinvestasi.
Jika tidak, persoalan kapasitas ini akan terus membayangi kita sehingga krisis yang terjadi masih akan terus berlanjut. Terlebih, karena banyak daerah di Indonesia masih akan terus menghasilkan pertumbuhan yang tinggi, meskipun terjadi pengetatan kebijakan moneter.
Dengan melihat perkembangan tersebut, kita sungguh berharap bahwa Bank Indonesia cukup arif dalam menerapkan kebijakan moneter. Suatu langkah yang bersifat "overkill" rasanya justru akan menimbulkan lebih banyak mudarat daripada manfaat. Sementara itu, Bank Indonesia juga masih bisa memainkan instrumen yang lain. Nilai rupiah yang menguat, misalnya, akan mengurangi dampak "imported inflation".
Keadaan ini akan mengurangi ketegangan peningkatan harga-harga sehingga pada akhirnya tekanan ke atas pun bisa dibatasi. Langkah ini sering digunakan oleh Singapura yang menerapkan "strong currency policy".
Saya memperhatikan bahwa dalam beberapa hari terakhir ini rupiah mulai menguat. Bahkan rupiah mampu menembus batas bawah dari Rp9.200. Dengan melihat perkembangan tersebut, barangkali kebutuhan untuk membebankan semua langkah koreksi pada suku bunga juga bisa dikurangi. Saya selalu percaya Bank Indonesia mampu bertindak arif. Mudah-mudahan permasalahan ini segera berlalu. (*)
CYRILLUS HARINOWO
Rektor ABFII Perbanas (//mbs)


