JAKARTA - Saat pertama kali menjabat sebagai wakil presiden, Jusuf Kalla mengaku kaget melihat kas negara dalam laporan keuangan pemerintah. Masalahnya, laporan itu lebih mirip laporan keuangan toko.
"Saya lebih marah karena laporan kas negara itu digabung jadi satu antara dollar, yen, poundsterling. Depkeu tidak mengerti berapa kekuatan kas negara. Sungguh konyol," cerita wapres, saat membuka rapat kerja Departemen Keuangan, di Hotel The Sultan, Jakarta, Rabu (16/7/2008).
Wapres pun akhirnya minta untuk diperbaiki. Sehingga dirinya bisa tahu berapa kekuatan pemerintah. "Menkeu harus berpikir konservatif," imbuhnya.
Saat Wapres baru menjabat, menteri keuangan dijabat oleh Jusuf Anwar, yang kemudian dia menjabat dari 21 Oktober 2004 hingga 6 Desember 2005. Kemudian posisi Jusuf digantikan oleh Sri Mulyani Indrawati.
Setelah itu pemerintah melakukan perbaikan dengan membuat UU sistem akuntasi pemerintahan. "Dengan begitu kita cepat memantau keadaan keuangan. Sistem kita gampang-gampang susah. Dulu APBN kita Rp300 triliun sekarang Rp1.000 triliun," tuturnya.
Dengan sistem online dan ontime, lanjutnya, maka akan memudahkan pemerintah. Menurutnya, gabungan antara akuntan dan teknologi yang baik menjadikan sistem yang baik.
"Semua pemerintah tidak hanya bertanggung jawab untuk hari ini. Suatu negara dilihat dari kesinambungannya. Dalam 10 tahun terkahir 30 persen, sekarang 16 persen. Yang kita capai cukup bagus," tutupnya.
(rhs)