JAKARTA -Para pemegang saham Bank Niaga dan Bank Lippo sepakat adanya peleburan (merger) kedua bank menjadi Niaga CIMB. Penggabungan ini disahkan melalui RUPS-LB gabungan.
"Persetujuan dari pemegang saham membawa selangkah lebih dekat ke proses merger," Group Chief Executive CIMB Group Dato Sri Nazir Razak, di Graha Niaga, Jalan Jendral Sudirman, Jakarta, Jumat (18/7/2008).
Namun, proses penggabungan usaha masih menunggu persetujuan dari otoritas terkait di Malaysia dan Indonesia, BI dan Bapepam-LK.
RUPS LB juga menyetujui pengangkatan Arwin Rasyid sebagai presiden Bank CIMB Niaga. Penyelesaian keseluruhan proses hukum penggabungan usaha ditargetkan rampung pada 1 Oktober 2008. Sementara target integrasi bisnis selesai pada triwulan IV-2009.
CIMB Group Sdn Bhd, anak perusahaan dari Bumiputra-Commerce Holdings Berhad (BCHB) akan mengakuisisi 51 persen saham Bank Lippo dari Santubong Investment, anak perusahaan dari Khazanah Nasional Bhd seharga RM 2,07 miliar.
BCHB akan memberi kompesasi 207,1 juta saham baru senilai RM10 per lembar ke Khazanah sebagai kompensasi bagi 51 persen sahamnya di Bank Lippo.
Dalam proses merger ini, pemegang saham Bank Lippo akan menerima 2.822 saham baru Bank Niaga, sebagai kompensasi dari setiap 1.000 saham Bank Lippo yang dimilikinya.
CIMB Group akan menjalankan fasilitas siaga untuk membeli saham Bank Niaga dan Bank Lippo senilai masing masing Rp1.025 dari Rp2.969 per lembar saham dari minoritas kedua bank tersebut yang memilih untuk tidak memiliki saham di Bank CIMB Niaga
CIMB Group nantinya akan memiliki antara 58,7 persen dan 81,3 persen saham di Bank CIMB Niaga, tergantung dari jumlah pemegang saham minoritas yang akan memilih untuk berpatisipasi dalam kepemilikan bank baru tersebut.
Dengan adanya proses merger, 10.560 orang karyawan yang menwakili 96 persen dari gabungan staf Bank Niaga dan Bank Lippo telah memutuskan untuk menjadi bagian dari Bank CIMB Niaga per 14 Juli 2008.
(rhs)