Sektor Riil
Nasionalisasi Lapangan Migas, RI Untung USD750 M
Senin, 21 Juli 2008 - 17:15 wib
Nuria - Okezone
Berita Lainnya
-
Senin, 06/10/2008 12:10
Pasokan BBM Region III Lancar -
Senin, 06/10/2008 11:10
Stok BBM di Nganjuk & Lumajang Kosong -
Senin, 06/10/2008 11:10
Imbas Krisis Finansial Global
Gunakan Valas, Pertamina Perlu Penyesuaian -
Senin, 06/10/2008 11:10
Pertamina Yakin Target Konversi Elpiji Terpenuhi -
Minggu, 05/10/2008 20:10
2009-2010 Kondisi Kritis Ekonomi Indonesia -
Minggu, 05/10/2008 18:10
Pemerintah Batasi Impor Barang Konsumtif -
Minggu, 05/10/2008 12:10
Serba-Serbi Usaha
Rental Mobil Panen Pesanan -
Minggu, 05/10/2008 10:10
Industri Kecil Masih Butuh Gula Rafinasi -
Minggu, 05/10/2008 09:10
BP Migas: Tak Semua Produksi Minyak Automatis Berstatus Lifting -
Sabtu, 04/10/2008 09:10
Ekspor Mebel & Kerajinan Mulai Lemah

Demikian proyeksi Ketua Umum Aspermigas Effendi Sirajuddin, saat seminar bertema Migas Sebesar-Besarnya untuk Kemakmuran Rakyat, di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Senin (21/7/2008).
Proyeksi itu didasari langkah Venezuela saat melakukan nasionalisasi lapangan Orinoco Exxon Mobil. Produksi minyak di Lapangan Orinoco sebanyak 600ribu bph dengan cadangan 30 miliar barel. Untuk nasionalisasi ini, Exxon Mobile meminta harga USD25 miliar ke pemerintah Venezuela.
Sementara itu, cadangan minyak Indonesia tujuh miliar barel senilai USD1000 miliar, dengan asumsi harga minyak dunia USD150 per barel. Sementara untuk biaya investasi dan produksi sebesar 20 persen per barel. Jadi keuntungan bersihnya USD800 miliar. Sementara yang dibawa asing USD350 miliar.
Sebanyak 80 persen atau sekitar 650 ribu bph produksi minyak Indonesia dikuasai oleh asing.
"Dengan merujuk angka produksi lapangan orinoco Exxon Mobil, maka untuk membayar perusahaan minyak asing yang dinasionalisasi yakni sekitar USD30 miliar hingga 50 miliar. Dari biaya itu, Indonesia masih berpotensi untung sekitar USD750 per barel," katanya.
Effendi menilai meski pemerintah telah beupaya, namun masih terjadi kegagalan kebijakan energi dan migas. Kegagalan ini karena impor minyak mencapai 70 persen, 80 persen produksi nasional didominasi oleh perusahaan migas dan 80 persen belanja per tahun didominasi sektor jasa dan barang asing.
"Nasionalisasi perusahaan produk asing akan mempercepat upaya swasembada pangan dan energi, lepas dari ketergantungan asing sehingga beban APBN berkurang," ujarnya. (rhs)

