kolom ekonomi
Mengintip Prospek Saham Sektor Pertambangan Batu Bara
Senin, 21 Juli 2008 - 08:51 wib
Berita Lainnya
-
Senin, 25/08/2008 13:08
Angka PDB dan Optimisme Perekonomian -
Kamis, 21/08/2008 08:08
Mengoreksi Pembiayaan UMKM -
Rabu, 20/08/2008 10:08
Neoliberalisme vs Neososialisme -
Selasa, 19/08/2008 08:08
Pidato Kenegaraan, Antara Harapan dan Kenyataan -
Kamis, 14/08/2008 09:08
Kredibilitas BI vs Pemberantasan Korupsi -
Rabu, 13/08/2008 08:08
Penurunan Harga Minyak dan Ekonomi Indonesia -
Selasa, 12/08/2008 08:08
Ketika UOB Buana dalam Dekapan UOB Singapura -
Senin, 11/08/2008 11:08
Menebak Angka Pertumbuhan Ekonomi

Bahkan, kapitalisasi pasar PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil menggantikan saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) di urutan teratas. Kinerja saham sektor pertambangan batu bara tersebut terutama disebabkan faktor meningkatnya harga komoditas batu bara di pasar internasional, dipicu tingginya permintaan dari China dan India.
Menguatnya harga minyak mentah dunia dari USD100 per barel hingga mendekati USD150 per barel selama enam bulan terakhir juga mengangkat harga batu bara sebagai bahan bakar subtitusi secara signifikan, dari sekitar USD55 per ton menjadi hampir dua kali lipatnya dalam periode yang sama.
Penguatan harga batu bara dunia dan meningkatnya volume penjualan kuartal pertama 2008 karena tingginya permintaan dalam dan luar negeri telah memberikan berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan-perusahaan tambang batu bara, sebut saja PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA), BUMI, dan PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG), yang mencatatkan peningkatan laba.
Pergerakan harga sahamsaham emiten pertambangan batu bara sempat mengalami kenaikan yang signifikan,terlihat dari pergerakan saham BUMI yang mengalami penguatan 80 persen pada periode April-Juni 2008,PTBA mengalami penguatan 91 persen, dan ITMG mengalami penguatan 107 persen, pada periode yang sama.
Penguatan harga sahamsaham batu bara tersebut juga berhasil menahan penurunan indeks lebih dalam akibat sentimen negatif dari tingginya tingkat inflasi dalam negeri, serta faktor ekonomi global yang cenderung negatif karena ancaman tingkat inflasi dan krisis di sektor keuangan. Lalu bagaimana prospek ke depannya? Arah pergerakan harga saham sektor tambang batu bara masih sangat dipengaruhi fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Relatif tingginya harga minyak mentah dunia telah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap tingginya tingkat inflasi global yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi global, sehingga akan memengaruhi permintaan terhadap energi.
Harga minyak mentah dunia yang tetap cenderung naik terus meningkatkan kekhawatiran terhadap ancaman tingginya inflasi global dan memberikan sentimen negatif terhadap harga batu bara di pasar berjangka, sehingga cenderung melemah akhir-akhir ini.
Kondisi inilah yang menyebabkan turunnya sahamsaham sektor pertambangan dalam seminggu terakhir. Meski demikian, prospek saham-saham sektor pertambangan batu bara diperkirakan masih cukup baik,terkait faktor harga minyak mentah dunia yang relatif masih tinggi. Kondisi itu menyebabkan batu bara masih akan menjadi primadona energi alternatif dan menyebabkan permintaan masih cenderung tinggi.
Harga minyak pun diperkirakan tetap tinggi karena berbagai faktor.Melemahnya nilai tukar dolar AS yang mendorong spekulan masuk ke pasar komoditas, lalu ketegangan militer di kawasan Timur Tengah antara Iran dan AS-Israel,turunnya suplai minyak mentah dunia,serta produksi jangka panjang yang juga diperkirakan turun,serta masih tingginya permintaan minyak oleh beberapa negara berkembang di Asia yang tengah tumbuh.
Analis memperkirakan harga minyak mentah berpeluang menuju level USD170 hinga USD200 per barel hingga akhir tahun ini. Di dalam negeri, momentum penguatan harga batu bara dan masih cenderung menguatnya harga saham emiten di sektor ini masih mendorong perusahaan sejenis melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO), antara lain PT Indika Energy, PT Bayan Resourses dan PT Adaro Energy.
Tingginya minat beli investor atas saham perdana Indika Energy dan Adaro Energy terefleksi dari kelebihan permintaan pada saham kedua emiten itu yang masingmasing 17 kali dan 5 kali.
Bahkan, IPO Adaro Energy sebesar USD1,3 miliar merupakan yang terbesar sepanjang 2008 dan diperkirakan semakin menambah dominasi saham sektor pertambangan batu bara sebagai penentu arah pergerakan indeks.
Kendati demikian, perlu pula dicermati rencana pemerintah untuk membatasi ekspor batu bara untuk mengamankan pasokan dalam negeri, serta kebijakan pembayaran royalti sebesar 13,5 persen dari produksi dalam bentuk batu bara. Dua kebijakan itu diperkirakan menjadi sentimen negatif terhadap pergerakan harga saham batu bara dalam jangka pendek.
Namun, dengan prospek yang masih baik, penurunan harga saham akibat sentimen negatif perubahan bentuk royalti maupun relatif melemahnya harga batu bara di pasar future tersebut justru dapat dimanfaatkan investor untuk melakukan akumulasi beli.Sebab, jika sentimen pasar kembali membaik, saham-saham sektor batu bara diperkirakan kembali menjadi penggerak menguatnya indeks.(*)
Hendri Effendi
Pengamat Pasar Modal (//rhs)


