JAKARTA - Ada ganjalan yang muncul bagi pemegang saham Bank Lippo, selepas persetujuan merger Bank Lippo dan Bank Niaga. Persoalnya ada pada bagaimana kejelasan posisi saham pada akhirnya. Pasalnya, saham Lippo yang dimiliki saat ini dalam bentuk fisik.
Sekadar diketahui, RUPSLB kedua bank tersebut pada Jumat 18 Juli pekan lalu menyepakati merger menjadi CIMB Niaga. Pemegang saham pun juga menyetujui Arwin Rasyid sebagai Dirut.
Menurut sumber okezone di lantai bursa Selasa (22/7/2008) mengatakan, hal tersebut yang lantas dicemaskan investor mengingat status kepemilikan saham di Bank Lippo menjadi tidak jelas.
Sebagaimana diketahui seluruh saham emiten saat ini dalam bentuk Scriptless (nonfisik) dan hanya tercatat nama pemegang saham Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).
Dalam prospektusnya tentang rancangan merger, setelah Lippo bergabung dengan bank Niaga, maka struktur permodalan bank hasil merger ini akan memiliki modal dasar Rp2,9 triliun dan modal disetor Rp998,862 miliar.
Rencana penggabungannya akan efektif pada 1 Oktober 2008. Sementara integrasi bisnis secara keselutuhan diharapkan selesai pada triwulan IV 2009.
Sebagian dari proses penggabungan usaha ini 10.560 orang karyawan yang akan mewakili 96 persen dari gabungan staf Bank Niaga dan Bank Lippo, telah memutuskan untuk menjadi bagian dari Bank CIMB Niaga per 14 Juli 2008.
(rhs)