ekonomi global


AS Harus Pangkas Bea Pertanian

Selasa, 22 Juli 2008 - 08:11 wib
text TEXT SIZE :  

JENEWA - Menteri perdagangan di seluruh dunia membicarakan perdagangan internasional pada pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) yang dimulai Senin 21 Juli waktu setempat.

Pertemuan ini dilatarbelakangi kegagalan pada 2006 dan 2007 serta kekhawatiran Amerika Serikat (AS) untuk melakukan perdagangan yang sehat dalam perjanjian tersebut.

Presiden Bank Dunia Robert Zoellick menganggap pertemuan ini sebagai pertemuan "sekarang atau tidak selamanya", mengingat pertemuan Doha yang dilaksanakan tujuh tahun lalu gagal.

Pertemuan Doha tersebut bertujuan menghapuskan subsidi pertanian dan tarif serta membantu negara berkembang menuju negara makmur lewat perdagangan dunia.

Pertemuan itu juga membicarakan tentang manufaktur produk dan pelayanan jasa. Negara kaya seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa berharap bisa mendapatkan keuntungan agar menolong mereka dari perubahan politik perdagangan pertanian yang merugikan.

"Kebanyakan petani dunia hidup di negara berkembang. Mereka akan terus dibebankan penyimpangan subsidi perdagangan serta menjadi penghalang meraih pasar di negara berkembang," terang perwakilan negara berkembang yang ikut serta dalam pertemuan WTO.

Dalam pernyataan perwakilan itu, tugas yang paling penting yang diemban WTO saat ini adalah untuk mengatasi masalah penyimpangan tersebut.

Menteri Luar Negeri Brasil Celso Amorim juga mengutarakan harapannya dalam pertemuan itu. Dia mengatakan, pertemuan ini akan menghasilkan draf baru tentang perjanjian di bidang agrikultur dan manufaktur produk. Dia mengatakan perjanjian di dalam pertemuan WTO ini akan segera disahkan Direktur Jenderal (Dirjen) WTO Pascal Lamy.

Rencananya, perjanjian ini diresmikan pada Jumat, setelah sebelumnya dibicarakan dalam pertemuan negara berkembang. Sementara itu pada Putaran Doha, diluncurkan perayaan solidaritas global terkait serangan 11 September di Amerika Serikat.Pada Juli 2006, Lamy menangguhkan negosiasi selama enam bulan setelah para pelaku utama tidak menunjukkan adanya tanda pertemuan untuk membahas perdagangan pertanian.

Satu tahun kemudian, hasil negosiasi tersebut mengalami kemunduran ketika pertemuan di Postdam, Jerman. Sebab, terjadi jurang pemisah yang besar antara India dan Brasil serta Amerika Serikat dan Uni Eropa tentang bagaimana mengubah agrikultur dan manufaktur perdagangan produk.

Pertemuan ini dihantui ketidakpastian apakah Amerika Serikat akan melakukan perjanjian perdagangan yang menguntungkan di tengah perekonomian yang melemah beberapa bulan belakangan. Regulator baru-baru ini mengajukan legislasi pertanian baru yang dapat mendorong subsidi pertanian jika harga semakin turun.

Selain itu, otoritas Gedung Putih menyerahkan perjanjian perdagangan ke Kongres dengan satu suara tanpa ada perubahan seperti yang telah disepakati tahun lalu. Dalam pertemuan itu, negara berkembang menuntut negara maju untuk memotong subsidi dan tarif pertanian.

Sebab, hal ini telah memberikan dampak negatif kepada para petani beberapa tahun belakangan. Kendati demikian,Amerika Serikat dan Uni Eropa mengatakan mereka hanya mau menyetujui perjanjian jika memberikan kesempatan ekspor baru.

Namun, negara berkembang melawan hal itu. Pertemuan itu menekankan adanya tindakan untuk membatasi pemotongan tarif pada produk-produk yang sensitif.Amerika Serikat memiliki tarif yang tinggi untuk produk pertanian seperti gula, produk sehari-hari, tembakau dan daging.

Namun dalam pertemuan ini, Amerika diminta memotong tarif produk tersebut. Proposal WTO yang terakhir mengimbau pemotongan tersebut hingga 70 persen pada perdagangan di Amerika Serikat. Selain itu, memperbesar subsidi dari USD13 miliar menjadi USD16,4 miliar. (Rahma Regina/Sindo/rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4