ekonomi global


Kuartal II-2008

Laba American Express Ambles 38%

Selasa, 22 Juli 2008 - 12:16 wib
text TEXT SIZE :  
Ayyi Ahmad Hidayah - Okezone
(foto: AP)

NEW YORK - Keuntungan American Express Co pada kuartal kedua tahun ini, dilaporkan mengalami penurunan hingga 38 persen. Penurunan ini diakibatkan oleh melambatnya daya beli konsumen dan membengkaknya angka kredit macet.

Sampai akhir Juni, pendapatan bersih mereka hanya mencapai USD653 juta atau menurun dari USD1,06 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini diikuti oleh merosotnya likuiditas saham American Express, yang jatuh dari level 88 sen per saham menjadi 56 sen per saham.

Meski begitu, para analis masih berharap bahwa likuiditasnya akan kembali meningkat hingga mencapai 83 sen per saham.

Namun pada penutupan pasar kemarin, harga saham American Express tercatat mengalami penurunan sebesar USD4,50 atau 11 persen, menjadi USD36,40. Bahkan, jika dihitung dalam kurun waktu satu tahun terakhir, penurunannya telah mencapai 21 persen.

Cadangan kredit mereka yang hanya sebesar USD374 juta juga merefleksikan tingginya angka kredit macet perusahaan, pelambatan ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga kuartal kedua dan ketiga tahun ini.

Perusahaan jasa kartu kredit asal Negeri Paman Sam ini mengatakan, keuntungan mereka hanya mencapai USD21 juta, atau turun dari USD580 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Pendapatan bunga pada mengalami penurunan sebesar satu persen, menjadi USD3,6 miliar. Hal ini semakin diperparah dengan membesarnya biaya provisi pinjaman yang mencapai USD1,5 miliar, angka ini jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu yang hanya sebesar USD640 juta.

Sementara persentase pinjaman bersih American Express justru meningkat dari 2,9 persen menjadi 5,3 persen pada tahun ini.

Chairman dan Chief Executive American Express Kenneth I Chenault menegaskan, pelemahan ekonomi yang telah terjadi sejak bulan Juni silam, ditandai dengan jatuhnya kepercayaan konsumen, meningkatnya pengangguran, serta melejitnya harga rumah yang telah mencapai rekor dalam satu dekade terakhir.


"Daya beli konsumen telah menurun hampir sepanjang kuartal, dan indikator kredit pun telah melejit hingga melebihi ekspektasi," papar Chenault, seperti dikutip Associated Press (AP), Selasa (22/7/2008).

"Runtuhnya sektor ekonomi telah menjadi faktor utama terjadinya subprime pada nasabah kami," lanjutnya.

Jika kondisi ekonomi semakin memburuk, American Express mau tak mau harus segera meningkatkan cadangan kreditnya.

Melihat kondisi ekonomi yang masih mengalami ketidakpastian ini, pihak perusahaan pun merevisi target pertumbuhan likuiditas sahamnya yang semula diperkirakan bisa mencapai empat - enam persen. (rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4