Fiskal & Moneter
Resesi AS Berdampak Terbatas di RI
Rabu, 23 Juli 2008 - 13:42 wib
Nurfajri Budi Nugroho - Okezone
Berita Lainnya
-
Kamis, 04/09/2008 13:09
BI: Akhir 2008, Inflasi IHK 11,5-12,5% -
Kamis, 04/09/2008 12:09
Sukuk Diterbitkan Semester I-2009 -
Kamis, 04/09/2008 12:09
Capai Target Inflasi, BI Waspadai Demand -
Kamis, 04/09/2008 10:09
Institusi Domestik Kuasai SUN 78,8% -
Selasa, 02/09/2008 16:09
Pembeli Barang Mewah Harus Punya NPWP -
Selasa, 02/09/2008 14:09
Pemerintah Susun PP RUU PPh -
Selasa, 02/09/2008 13:09
15 Kementerian/Lembaga Lakukan PNBP Tak Sesuai PP -
Selasa, 02/09/2008 12:09
RUU PPh Kurangi Potensi Penerimaan Pajak Rp40 T -
Selasa, 02/09/2008 11:09
RUU PPh Siap Disahkan -
Selasa, 02/09/2008 11:09
Sri Mulyani:
Potensi Ekspor Harus Banyak Digenjot

ist
"Dampak resesi AS terhadap Indonesia melalui pasar finansial, dengan anjloknya IHSG dan rupiah, serta inflasi komoditas. Tetapi setelah pasar global pulih, rupiah, pasar SUN, dan IHSG juga akan pulih," ungkap ekonom senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, dalam pemaparan tertulis yang diterima okezone, Rabu (23/7/2008).
Fauzi memperkirakan, dengan cepatnya bank sentral dan pemerintah AS dalam menangani krisis subprime, pasar global diperkirakan pulih pada semester dua tahun ini.
Dijelaskan dia, pemicu awal krisis finansial adalah krisis KPR subprime di AS. Total kredit pembelian rumah (KPR) di AS tercatat sebesar USD10 triliun. Dari jumlah itu, sebesar USD1,2 triliun adalah KPR subprime berkualitas rendah.
"Suku bunga USD naik dari 1 persen ke 5,25 persen pada 2004-2006 dan memukul pasar KPR. Kerugian bank dari tunggakan KPR subprime sekira USD440 miliar," urai dia.
Kerugian perbankan di AS itu kemudian memukul pasar saham. Sementara penunggakan KPR memukul sektor properti.
"Terpukulnya pasar saham dan properti menciptakan resesi ekonomi AS. Sedangkan terpuruknya ekonomi AS memaksa Federal Reserve memangkas suku bunga dari 5,25 persen menjadi 2,00 persen," tambahnya.
Akibatnya, anjloknya pasar saham AS dan diturunkannya suku bunga USD memperlemah kurs USD. Selain itu, anjloknya pasar saham AS juga memukul pasar saham global.
"Anjloknya USD dan pasar saham dunia memicu kenaikan harga komoditas. Selanjutnya, resesi ekonomi AS dan kenaikan harga komoditas dunia menghambat pertumbuhan ekonomi dunia," terang alumnus Massachusetts Institute of Technology ini. (jri)


