Fiskal & Moneter
Neoliberal untuk APBN Mandul
Rabu, 23 Juli 2008 - 17:46 wib
Mochammad Wahyudi - Okezone
Berita Lainnya
-
Minggu, 05/10/2008 17:10
Dana Talangan Tak Pulihkan Kepercayaan Pasar -
Minggu, 05/10/2008 14:10
Ekspor Migas Tidak Terganggu Kebijakan Bailout -
Minggu, 05/10/2008 11:10
Belanja Pemerintah Akan Diperbaiki -
Minggu, 05/10/2008 11:10
Arus Fiskal Ke Daerah Belum Tembus 30% APBN -
Sabtu, 04/10/2008 10:10
Makroekonomi Belum Sejahterakan Daerah -
Jum'at, 03/10/2008 13:10
Pemulihan Daya Beli & Penyerapan Anggaran Jaga Pertumbuhan Ekonomi -
Jum'at, 03/10/2008 09:10
Sebaiknya Jangan Ada Penjatahan KEK -
Kamis, 02/10/2008 13:10
Bidik Sektor Konstruksi, Ditjen Pajak Gandeng BPKP -
Kamis, 02/10/2008 12:10
Penciptaan Lapangan Pekerjaan Masih Sempit -
Rabu, 01/10/2008 10:10
F-PG akan Hilangkan Pajak Lingkungan

"Padahal, sejatinya APBN dapat berperan strategis dalam mengemban amanat konstitusi, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucap Ekonom dari Tim Indonesia Bangkit (TIB) Hendri Saparini dalam diskusi tentang Pemenuhan Hak Dasar Rakyat dalam APBN di kantor Econit, Tebet, Jakarta, Rabu (23/7/2008).
Menurutnya, nuansa neoliberalisme sangat kental dalam APBN. Ia mencontohkan, dalam nota keuangan pemerintah yang di dalamnya memuat Rancangan APBN 2008, disebutkan bahwa fungsi APBN hanya sebagai bentuk intervensi pemerintah untuk memenuhi kebutuhan rakyat.
"Itu, berarti jika pemerintah tidak perlu melakukan intervensi, masyarakat harus memenuhi kebutuhannya berdasarkan mekanisme pasar," jelasnya.
Selain itu, paradigma neoliberalisme juga bisa terlihat dari porsi APBN dalam "kue" perekonomian. Menurutnya, APBN saat ini hanya memiliki porsi sebesar 19 persen dari perekonomian. Padahal, di negara-negara yang sudah maju sekalipun, porsi anggaran negara cukup besar. "Di Perancis, porsi anggaran negara mencapai 40 persen dari perekonomian. Sedangkan di Jepang mencapai 35 persen," katanya.
Padahal, lanjut Hendri, negara-negara tersebut paling giat mengkampanyekan neoliberalisme. Namun, paham tersebut tidak sampai menyentuh urusan domestik mereka. Karena, mereka tetap meyakini bahwa anggaran negara yang yang besar sangat penting dalam meningkatkan perekonomian. (ade)
(rhs)

