Finance
CSR Indonesia Terbelakang di Asia
Rabu, 23 Juli 2008 - 19:01 wib
Nuria - Okezone
Berita Lainnya
-
Jum'at, 10/10/2008 17:10
Rating Indosat Naik Jadi Ba1 -
Jum'at, 10/10/2008 17:10
Investor Harus Tumbuhkan Kebersamaan -
Jum'at, 10/10/2008 16:10
HSBC Tak Mau Andalkan Dana Inggris -
Jum'at, 10/10/2008 16:10
Otoritas Bursa Usut Penyebar Informasi Menyesatkan -
Jum'at, 10/10/2008 16:10
Waduh, Rupiah Ditutup Rp9.850! -
Jum'at, 10/10/2008 15:10
BEI Akan Kembali Bertemu Bakrie Group -
Jum'at, 10/10/2008 15:10
CIMB Niaga Bantah Punya Mortgage di AS -
Jum'at, 10/10/2008 15:10
Antam: Berita Pembelian BUMI Hanya Isapan Jempol -
Jum'at, 10/10/2008 14:10
BEI Tak Ingin Krismon 1997 Terulang -
Jum'at, 10/10/2008 14:10
Rizal Ramli:
Buy Back BUMN Hanya Untungkan Asing & Elit

Hal ini karena perusahaan di Indonesia baru menerapkan program ini pada beberapa tahun terakhir, sementara negara Filipina yang menjadi benchmark program ini, sudah menerapkan program itu sejak tahun 1970.
Padahal Indonesia dan Filipina sendiri memiliki kesamaan pola pemerintahan yang cenderung otoriter. Di zaman Soeharto lalu, Indonesia adalah negara yang represif, sehingga kesadaran masyarakat untuk membangun hampir tidak ada.
"Sementara, ketika Filipina yang dipimpin oleh pemerintahan Marcos tidak lagi melakukan praktek KKN," kata Manajer Eksternal Relation IBL Danie Prakosa di Gedung WTC, Jakarta, Rabu (23/7/2008).
Selain Filipina, Thailand juga muncul sebagai benchmark program CSR di Asia, karena Raja Thailand sangat memperhatikan lingkungan, serta masalah-masalah sampah, setiap rabu pagi hingga siang hari, Raja Thailand selalu ikut serta dalam membersihkan sampah.
Indonesia adalah satu-satunya negara yang tidak memiliki peraturan CSR, jadi dengan adanya aturan ini, pemerintah seperti terkesan memaksakan, padahal program CSR adalah program yang sukarela, dan merupakan tanggung jawab sosial perusahaan. (ade) (rhs)


