Sektor Riil
Bulan Ini Harga Bahan Pokok Naik, September Stabil
Kamis, 24 Juli 2008 - 17:10 wib
Mochammad Wahyudi - Okezone
Berita Lainnya

JAKARTA - Harga sejumlah kebutuhan bahan pokok selama Juli ini mengalami kenaikan. Kenaikan tertinggi terjadi pada harga daging ayam sebesar 10,5 persen dan telur ayam sebesar 12,7 persen.

Kenaikan juga terjadi pada bahan pangan lainnya, seperti daging sapi sebesar 0,05 persen, minyak goreng kemasan sebesar 0,04 persen, kedelai sebesar 0,04 persen, dan bawang merah sebesar 15,5 persen.

"Khusus daging ayam dan telur, kenaikannya disebabkan naiknya harga pakan akibat naiknya harga jagung. Saat ini memang ada kegiatan ekspor untuk jagung, namun masih dalam skala kecil dan itu bukan penyebab naiknya harga pakan," jelas Deputi Menko Perekonomian Bidang Pertanian, Kelautan, dan Perikanan Bayu Krisnamurthi, di kantor Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (24/7/2008).

Sedangkan harga beras pada bulan ini secara keseluruhan mengalami penurunan sebesar 0,05 persen. Sebaliknya, untuk beras kualitas murah naik 0,13 persen.

"Komoditas lain yang turun adalah minyak goreng curah sebesar 3,6 persen, gula pasir 0,19 persen, dan tepung terigu 0,8 persen," tambah Bayu.

Meski mengalami kenaikan pada bulan ini, pada September mendatang atau menjelang Ramadan dan hari raya, harga bahan pokok diperkirakan stabil.

"Seperti harga beras yang berada di kisaran Rp6.500/kg dan produksinya naik 4,67 persen, ketimbang tahun 2007 periode yang sama," ungkapnya.

Harga bahan pokok lainnya yang akan tetap stabil adalah minyak goreng pada kisaran Rp12.000/kg dan gula pasir pada kisaran Rp6.500/kg.

"Untuk minyak goreng, tren harganya akan menurun. Untuk menjaga stabilitas harganya, Ramadan nanti pemerintah akan mengintensifkan minyak goreng bersubsidi ditambah pasar murah yang akan digelar Depdag dan CSR dari swasta, termasuk BUMN," urai Bayu.

Efektivitas Subsidi

Ditambahkan Bayu, pemerintah dan DPR telah sepakat untuk meningkatkan efektivitas subsidi pertanian pada 2009 sekira Rp20 triliun, di luar subsidi raskin. Untuk itu pihaknya akan meminta BPS untuk menyusun database usaha tani, sehingga subsidi benar-benar tepat sasaran.

"Pada dasarnya BPS sudah mempunyai database usaha tani, seperti basis data sensus pertanian pada 2003 yang menyebutkan ada sekira 24.059.000 rumah tangga petani pengguna lahan," papar dia. (jri)
250x208 250x250