Sektor Riil
Ekspor Indonesia Ke Hongkong Terancam
Kamis, 24 Juli 2008 - 20:27 wib
Berita Lainnya
-
Rabu, 27/08/2008 11:08
139 PDAM Dalam Kondisi Sekarat -
Rabu, 27/08/2008 08:08
Harga Baru LNG Tangguh Mulai 2010 -
Selasa, 26/08/2008 18:08
Ekspor Mineral Harus Diatur -
Selasa, 26/08/2008 18:08
Ketua DPR Sayangkan Naiknya Harga LPG -
Selasa, 26/08/2008 16:08
Royalti Batu Bara
Kemacetan Gara-Gara Pasal Peralihan -
Selasa, 26/08/2008 15:08
Tambahan Insentif Dorong Pertamina Sumbang PNBP -
Selasa, 26/08/2008 15:08
Pemerintah Beri Dana Pembangunan untuk Sumsel -
Selasa, 26/08/2008 15:08
BTN Yakin Kredit Tembus Rp13,5 T -
Selasa, 26/08/2008 14:08
Pemerintah Usung Pembangunan KTM -
Selasa, 26/08/2008 14:08
Belum ada Keberpihakan Parpol pada Demokratisasi Ekonomi

"Memang kebijakan yang akan diberlakukan Hongkong itu akan mengurangi ekspor," kata Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Departemen Perdagangan (Depdag) Agus Tjahjono di Jakarta, Kamis (24/7/2008).
Sebelumnya, Departemen Makanan dan Kebersihan Lingkungan Hongkong telah memberitahukan kepada Indonesia dan negara
lain terkait kewajiban pencantuman label di setiap produk makanan. Dalam aturan itu, setiap negara harus memberikan rincian terhadap produk yang dijual ke Hongkong. Misalnya, kadar lemak dan protein untuk setiap jenis makanan dan minuman.
Adapun rencana pemberlakuan label makanan dan minuman tersebut efektif mulai 1 Juli 2010 mendatang.
Menurut Agus, pencantuman label itu akan menambah biaya bagi para eksportir sehingga akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor.
Sekadar catatan, ekspor makanan dan minuman Indonesia ke Hongkong selama tahun 2006 mencapai USD8,2 juta dan tahun 2007 mencapai USD19,1 juta.
Sementara itu, Ketua Gabungan Asosiasi Makanan dan Minuman (Gapmmi) Adi Lukman mengatakan kebijakan tersebut akan mengurangi ekspor. Adi menyatakan pihaknya menilai aturan pemerintah Hongkong itu bertentangan dengan peraturan perdagangan internasional.
Adi menyebutkan untuk tahun 2008, pihaknya optmistis ekspor akan meningkat sampai 28 persen dibanding tahun 2007. Apalagi, lanjutnya, 60 persen kebutuhan makanan dan minuman Hongkong dipenuhi melalui impor antara lain dari Indonesia, Amerika Serikat,dan Jepang. "Saya belum bisa memperkirakan berapa persen penurunan ekspor ke Hongkong," ungkapnya. (ade) (Eko Budiono /Sindo/rhs)


