Sektor Riil


Mendag Protes Agar G-6 Lebih Transparan

Jum'at, 25 Juli 2008 - 13:47 wib
text TEXT SIZE :  
Rani Hardjanti - Okezone

JENEWA - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu memprotes karena tidak adanya transparansi hasil-hasil pembahasan yang dilakukan oleh Kelompok G-6 (Amerika Serikat, Uni Eropa, Brazil, India, Australia, dan Jepang) serta RRT.

Protes tersebut dilontarkan saat rapat TNC yang merupakan bagian dari Perundingan Terbatas Tingkat Menteri Perundingan Doha Development Agenda (DDA)-WTO. Mendag menyatakan dengan adanya ketidaktransparan tersebut akan menyulitkan konsultasi untuk mencari solusi penyelesaian perundingan yang tidak kunjung rampung.

"Banyak negara termasuk Indonesia tidak mengetahui apa yang terjadi karena semuanya tidak transparan, kami mendesak Ketua TNC agar semua proses lebih baik dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil dan besar yang dilakukan secara transparan dan lebih terbuka. Kelompok kecil yang terbentuk hendaknya hanya membahas isu-isu yang terkait atas kelompok tersebut dan tidak membahas seluruh isu perundingan", papar Mari, seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (25/7/2008).

Protes yang dilontarkan Mari tersebut, setelah adanya pertemuan dengan kelompok G-6 serta RRT, Direktur Jenderal WTO, Pascal Lamy. Kemudian, hasilnya dilaporkan dalam pembahasan kelompok kecil G-6 akan dibawa ke pertemuan ?~green room'', selanjutnya di sampaikan pada sidang TNC.

Sebagian besar perbedaan berada di antara negara-negara G-6 dan RRT. sehingga pembahasan isu-isu utama dilakukan di kelompok terbatas tersebut untuk mencapai kompromi dasar penyelesaian perundingan.

Namun, dalam rapat tersebut disebutkan tetap mengupayakan intensif untuk mendekatkan posisi antarkelompok. Tujuannya untuk mencapai kesepakatan dalam modalitas berdasarkan draft teks perjanjian di masing-masing perundingan.

Dirjen WTO menegaskan, keputusan penyelesaian modalitas penuh perundingan pertanian dan NAMA harus dapat diselesaikan dalam 24 jam ke depan. Untuk itu Lamy mengimbau agar para Menteri memberikan keputusan politis dan melakukan konsultasi dengan pemerintah pusat masing-masing.

Perundingan tersebut hari ini akan memasuki putaran kedua. Perundingan dimulai sore ini hingga waktu yang tidak ditentukan. Fokus perundingan adalah membahas isu-isu sensitif seputar pada isu pertanian, seperti pengurangan subsidi domestik dan subsidi ekspor oleh negara maju yang mendistorsi perdagangan internasional, pengecualian dari pengurangan tarif bea masuk produk pertanian (sensitive products untuk negara maju dan special products untuk negara berkembang), sistem tindakan pengamanan atas produk pertanian yang sensitif di negara berkembang (Special Safeguard Mechanism).

Untuk non-pertanian (NAMA) meliputi perluasan akses pasar melalui pengurangan tarif bea masuk produk industri baik di negara maju maupun negara berkembang. (rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4