JAKARTA - Siapa yang tidak kenal dengan mesin jahit merek Singer. Masa kejayaan yang telah usai, hanya menyisakan karyawan yang bisa dihitung dengan jari.
"Ya karyawan Singer di Indonesia tinggal tiga orang, yaitu satu sekretaris perusahaan, satu akunting, dan satu office boy (OB). Kami juga sudah tidak punya aset di Indonesia, hanya sebuah mobil," ujar Direktur Utama PT Singer Indonesia Tbk (SING) Abdul Natsser Majid, usai mengikuti rapat pemegang saham luar biasa (RUPS-LB) di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Jumat (25/7/2008).
Abdul juga mengungkapkan pesimistisnya, pada 2008 dan 2009 perusahaannya bisa cepat untung kendati sudah menyatakan akan banting setir ke bisnis sektor investasi dan general trading.
Berdasarkan pembukuan produsen mesin jahit ini, pada 2006 laba kotornya telah turun 53,2 persen dan pada 2007 juga ambles 37,6 persen. "Ini disebabkan pemberian potongan harga untuk menghabiskan sisa stok. Sejak Oktober 2006 lalu, kami sudah tidak memproduksi mesin lagi," ujarnya.
Sejak saat itu, hanya menjual sisa stok. Sehingga Singer tidak mempunyai pemasukan. "Kami belum punya pandangan tapi yang jelas rugi," imbuhnya.
Sampai saat ini, sisa dana deposito yang dimiliki juga hanya Rp3,8 miliar. Dana tersebut rencananya akan digunakan sebagai modal untuk ekspansi usaha pada 2009.
Kendati demikian, dia mengatakan, pasar Singer di negara Bangladesh, Thailand, Vietnam, dan Srilangka, memiliki perkembangan industri yang lebih baik ketimbang di Indonesia.
(rhs)