Peter Mandelson (Foto: AFP)
JENEWA - Rasa optimistis kembali memenuhi negosiasi World Trade Organization (WTO) pada pakta perdagangan global. Pasalnya, setelah hampir tujuh tahun selalu berjalan di tempat, para anggota optimistis akan terobosan baru. Kondisi ini bak angin segar di tengah gurun pasir.
Kunci sukses dalam pertemuan itu adalah keberhasilan 35 negara perdagangan besar dalam menjembatani perbedaan yang muncul di antara mereka. Meski begitu, kekhawatiran akan rusaknya tren positif ini juga muncul dari negara-negara emerging market seperti India dan Argentina.
"Saya pikir situasinya terlihat bagus, dan saya pikir kita juga bisa berharap banyak sekarang," tutur Komisaris Perdagangan Eropa Peter Mandelson, seperti dikutip AFP, Sabtu (26/7/2008).
"Apa yang ditakutkan karena perjanjiannya yang kurang sempurna, kurang cantik, namun itu semua cukup untuk memperbaiki ekonomi global dan membentuk pembangunan yang positif," lanjutnya.
Untuk mendorong perdagangan dunia, para menteri yang berasal dari 35 negara ekonomi kuat itu telah melakukan diskusi selama seminggu penuh. Mereka membahas penurunan subsidi dan tarif impor, untuk kemudian menggantinya dengan kesepakatan perdagangan bebas baru yang disebut Doha Round.
Doha Round ini sebenarnya telah diluncurkan pada ibukota Qatar sejak tujuh tahun yang lampau, tetapi tenggelam karena tidak tercapainya kata sepakat antara negara kaya dan negara miskin, dalam hal perdagangan farmasi serta produk industri.
Seperti halnya India yang berjalan ditempat, pihak Argentina pun seperti enggan untuk menyetujui kesepakatan tersebut.
Menteri Perdagangan India Kamal Nath bahkan bersikeras, dirinya akan melindungi jutaan petani serta industri di negaranya yang baru mulai mengalami pertumbuhan, dari tarif impor yang dibebankan kepada produk asing.
"Tidak ada kata setuju, tetapi ini adalah area yang pasti menjadi perhatian, area yang telah menjadi kesepakatan umum," ujarnya.
Tetapi Mandelson mengungkapkan bahwa India akan segera bergabung, "Saya tidak berpikir jika India akan menjadi salah satu negara yang mematahkan babak baru perdagangan dunia," ungkapnya.
Pembiacaraan yang dilakukan pada Jumat lalu juga difokuskan untuk membahas sektor perdagangan farmasi serta produk industri, yakni dua bidang yang menjadi titik penghambat terjadinya kesepakatan. Namun fokus perhatian pada pembicaraan hari sabtu justru sengaja dialihkan kepada sektor jasa.
Pembicaraan telah direncanakan agar kembali pada program aslinya, yang mana diramalkan akan berakhir pada hari Sabtu ini, dan dilanjutkan sepanjang akhir pekan, bahkan hingga awal minggu depan.
Karena apapun yang telah disetujui oleh 35 perwakilan WTO tersebut, nantinya tetap harus disepakati oleh 153 anggota yang ada. Pakta perdagangan baru ini hanya dapat diadopsi dengan kesepatan penuh yang disetujui oleh seluruh anggotanya.
(rhs)