Sektor Riil


Putaran Kedua Kenaikan BBM Bersubsidi Mengecil

Selasa, 29 Juli 2008 - 19:40 wib
text TEXT SIZE :  

JAKARTA - Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengungkapkan efek putaran kedua (second round effect) terhadap laju inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sudah mulai mengecil pada Juli 2008. Adapun pada bulan Juli kenaikan laju inflasi lebih dominan didorong oleh penyesuaian harga produk dan jasa.

"Second round effect relatif sudah lebih kecil. Yang ada adalah penyesuaian pada sejumlah komponen," ujar Direktur Perencanaan Makro Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Bambang Prijambodo dalam diskusi bersama wartawan di Jakarta, Selasa (29/07/2008).

Bambang mengungkapkan, beberapa komponen yang melakukan penyesuaian antara lain seperti kenaikan biaya transportasi laut, kenaikan harga gas elpiji, dan faktor musiman berupa kenaikan biaya pendidikan. "Kenaikan biaya pendidikan masih akan berlangsung hingga awal September mendatang. Tapi kita berharap responnya terhadap kenaikan BBM bersubsidi tidak terlalu tinggi," kata dia.

Menurut Bambang, relatif sudah mengecilnya efek putaran kedua terhadap laju inflasi merupakan hasil dari kebijakan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia (BI). Kebijakan itu adalah menaikan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) menjadi 8,75 persen sesuai hasil rapat Dewan Gubernur BI pada 3 Juli lalu.

"Respon kebijakan suku bunga ikut menekan likuiditas berlebih di pasar. Ini turut membantu dalam menekan ekspektasi inflasi," papar dia.

Namun, jelas dia, kebijakan penyediaan kebutuhan pokok masyarakat dengan menjamin pasokan maupun aspek distribusi, turut berperan efektif dalam menekan efek putaran kedua kenaikan BBM bersubsidi. Hal itu terutama dengan stabilnya harga maupun pasokan beras yang berkontribusi besar pada laju inflasi.

Berdasar asumsi tersebut, Bambang memproyeksikan laju inflasi bulan Juli masih akan berjalan normal. Selain itu secara keseluruhan tahun 2008, laju inflasi diperkirakan berada pada kisaran 11-12 persen.

Pendapat serupa disampaikan oleh Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetiantono. Tony memperkirakan laju inflasi bulan Juli berpotensi tembus di level 1,4 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibanding inflasi bulan sebelumnya sebesar 2,46 persen.

Meski inflasi tinggi, ujar dia, Bank Indonesia tidak perlu menaikan BI rate dalam waktu dekat. Hal itu disebabkan masih sangat kuatnya nilai tukar rupiah atas mata uang dolar dan tingginya jumlah aliran modal masuk (capital inflow) ke dalam negeri.

"Perekonomian Indonesia masih bisa mentoleransi negative real interest rate. Pada Januari-Mei 2006 sebelumnya, kita pernah mengalami negative real interest rate yang tinggi, minus 5 persen. Sekarang ini lebih lunak dimana inflasi yoy sekira 11-12 persen, sedangkan BI rate 8,75 persen. Jadi masih tolerable, sehingga BI rate tak perlu dinaikkan," ujar dia.

Chief Economist Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, pihaknya memproyeksikan laju inflasi bulan Juli mencapai level 0,67 persen (m-o-m) sedang tahunannya diperkirakan mencapai level 10,97 persen. "Sampai akhir tahun, inflasi cenderung stabil dan ditutup di 10,94 persen," ujar dia.

Untuk mengantisipasi masih tingginya laju inflasi ini, Purbaya mengatakan, Bank Indonesia kemungkinan bakal kembali meningkatkan BI Rate sebesar 25 basis poin sehingga menjadi 9 persen pada awal Agustus mendatang. Namun, dengan proyeksi stabilnya laju inflasi sepanjang tahun, BI akan menahan angka suku bunga acuan pada level tersebut hingga akhir tahun.

Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Bambang PS Brodjonegoro mengakui, kendati efek putaran kedua terhadap laju inflasi sudah mulai mengecil, namun laju inflasi Juli masih akan bergerak tinggi. "Meski memang dibanding Juni, Juli bakal turun lebih kecil. Tetapi potensi 11 persen inflasi hingga akhir tahun tetap besar," ujar dia. (Zaenal Muttaqin /Sindo/AHL )

o1 o2

Berita Lain

o3 o4