HONG KONG - Dampak pelemahan ekonomi Amerika Serikat dan Uni Eropa terhadap nilai ekspor negara-negara di Asia akan terasa pada semester II-2008.
Peringatan ini merupakan hasil riset HSBC Asia-Pacific, yang dilakukan Chief Equity Strategist HSBC Garry Evans dan HSBC Senior Asian Economist Frederic Neumann, seperti dikutip Minggu (3/8/2008).
"Struktur ekonomi Asia berubah secara drastis satu dekade belakangan ini. Permintaan domestik akan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi menggantikan nilai ekspor," ujar Neuman, dalam Daily Chinese Press Summary di Hong Kong.
Hasil itu dipublikasikan di tengah tingginya permintaan domestik di negara-negara Asia, khususnya Hong Kong. Dalam laporan itu, pertumbuhan ekonomi Hong Kong juga ditaksir akan berada di posisi lima persen dan 4,5 persen masing-masing pada 2008 dan 2009.
Sementara China, kendati melemah namun pertumbuhan ekonominya masih tinggi. Pada 2008 diproyeksikan tumbuh 9,7 persen dan 9,5 persen pada 2009. Sementara, laju inflasi masih akan menjadi ancaman. Negeri Macan Asia itu diproyeksikan akan mencetak laju inflasi dari 4,8 persen pada 2007 menjadi 7,1 persen pada tahun ini. Baru kemudian akan melambat pada 2009 di kisaran 4,5 persen.
Sementara, untuk pergerakan pasar saham yang bergerak liar diproyeksikan akan mulai kalem pada Januari 2009, setelah mulai dihentakan oleh badai Subprime Mortgage Oktober 2007.
(rhs)