Fiskal & Moneter


Pendapat Soal Kebijakan BI Rate Terpecah

Selasa, 5 Agustus 2008 - 07:36 wib
text TEXT SIZE :  
Rani Hardjanti - Okezone

JAKARTA - Bisa dikatakan saat ini Bank Indonesia (BI) tengah berada di posisi yang serba salah dalam menentukan posisi BI rate yang saat dipatok 8,75 persen. Namun, BI tetap harus mengambil keputusan jalan tengah untuk menjembatani kebutuhan banyak pihak.

Sebab, kebutuhan berbagai kalangan menyangkut BI rate kali ini terpecah. Tekanan BI untuk tetap mempertahankannya terus berdatangan. Di sisi lain, tekanan inflasi Juli yang masih berada di atas satu persen membuat BI harus mengerek suku bunga patokan tersebut.

Seperti diketahui, Dewan Gubernur BI akan menggelar rapat bulanan yang akan membahas seputar makroekonomi Tanah Air, salah satunya posisi BI rate. Rapat akan digelar di Gedung BI, Jakarta, Selasa (5/8/2008) siang ini.

Menurut Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, menaikkan suku bunga belum tentu efektif menekan inflasi. Karena karakteristik inflasi kali ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga komoditi di luar negeri yang "menular" ke dalam negeri (fenomena imported
inflation
).

"Di sisi lain, kenaikan suku bunga hanya akan menghambat sektor perbankan dalam berekspansi. Apalagi sekarang rupiah menguat (Rp 9.050 per USD) dan capital inflow masih mengalir," ujarnya dalam pesan singkatnya kepada okezone.

Sehingga cadangan devisa yang tinggi (USD 59 miliar), bisa menjadikan alasan kuat untuk tidak memberlakukan tight money policy.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom mengatakan, tetap mempertimbangkan laju inflasi, terutama untuk Juli yang berada di level 1,37 persen.

Inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan prediksi BI karena seharusnya dampak kenaikan BBM sudah hilang dan inflasi bisa ditekan. "Inflasi Juli secara tahunan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,41 persen. Namun, apakah bakal menaikkan BI Rate sebaiknya dilihat besok saja," tegasnya, di Jakarta, Senin 4 Agustus kemarin. (rhs)