BANDUNG - Keterbatasan persediaan listrik yang ada di wilayah Jabar Banten membuat penjualan rumah terhambat. Real Estate Indonesia (REI) Jabar kesulitan merealisasi target pembangunan rumah sederhana (RS). Padahal REI menargetkan dapat membangun 50 ribu RS sampai dengan akhir tahun 2008.
Ketua REI Jabar Hari Raharta mengatakan, REI sudah membangun 23 ribu RS pada semester pertama 2008. Namun pihaknya tidak yakin dapat memenuhi target semester dua karena keterbatasan pasokan listrik.
Adapun keterbatasan pasokan listrik ini, jelas Hari, membuat PT PLN Distribusi Jabar Banten (DJBB) kesulitan menyediakan pemasangan listrik untuk pelanggan di perumahan baru. Akibatnya ada beberapa rumah yang belum dapat ditinggali karena belum ada pasokan listrik.
Dengan tersendatnya pemasangan listrik ke perumahan, REI pun kesulitan menjual rumah. Pasalnya calon pembeli enggan membeli rumah yang belum ada listriknya.
"Kami sendiri telah menandatangani MOU dengan PLN dan mereka bersedia menyediakan listrik ke setiap rumah yang kita bangun," katanya di Bandung, Rabu (6/8/2008).
Kendati demikian, jika melihat keterbatasan ketersediaan listrik saat ini, Hari tidak yakin dapat memenuhi target penjualan rumah. Sementara itu, pada semester ini dia memprediksikan REI hanya mampu mencapai 50 persen dari target awal.
"Agak sulit juga penuhi target. Sampai sekarang saja baru 23 ribu RS yang tercapai. Kebanyakan berada di wilayah pinggiran Jakarta seperi Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Yah wilayah-wilayah sub urban yang jadi tempat tinggal pekerja di Jakarta," jelas Hari.
Kondisi ini memang menyulitkan REI dalam masalah pemasaran rumah. Padahal sebelumnya penjualan properti cenderung membaik ketika pemerintah menaikan harga jual RS tipe 36 dari Rp49 juta menjadi Rp55 juta. Kendati harganya naik, konsumen mendapat keuntungan karena pembayaran uang muka mendapat dispensasi perpanjangan.
"Konsumen bisa bayar lebih lama dari biasanya. Permintaan rumah bagus tapi pasokan listriknya terbatas. Kondisi ini cukup mempengaruhi penjualan rumah padahal kami membantu pemenuhan kebutuhan rumah di tengah keterbatasan kemampuan Perum Perumnas dalam membangun rumah baru," paparnya.
(Eviana Ulitaria Panjaitan/Sindo/ade)