JAKARTA - Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) untuk mempertahankan tingkat suku bunga pada level 2 persen membuat kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI rate 25 basis poin menjadi 9% menjadi mubazir. Bahkan, hal itu membuat upaya BI menaikan suku bunga dinilai kontraproduktif.
"Di satu sisi, ini memang menguntungkan karena mendorong rupiah mengalami penguatan. Namun pada sisi yang lain, langkah BI menaikan BI rate hingga 9 persen berpotensi menjadi mubazir, bahkan kontraproduktif," ujar Kepala Ekonom BNI A Tony Prasetiantono di Jakarta, Rabu (6/8/2008).
Menurut Tony, bila Bank Indonesia bersikukuh mempertahankan BI rate di level 8,75 persen, peluang untuk mengamankan aspek moneter terutama pengendalian laju inflasi sangat terbuka. Sebab pada saat yang sama, nilai tukar rupiah berada pada posisi yang cukup kuat terhadap mata uang dolar, yakni sebesar Rp9.070 per USD.
Selain itu, kata dia, cadangan devisa juga melonjak tajam dengan mencatatkan rekor yang cukup tinggi yaitu USD60,56 miliar. Angka ini melonjak tajam senilai USD1,11 miliar dibandingkan cadangan devisa pada bulan sebelumnya sebesar USD59,453 miliar. "Dan sekarang ditambah faktor Fed rate yang tetap bertahan di level 2 persen," kata dia.
Karena Rapat Dewan Gubernur BI telah memutuskan kenaikan BI rate ke posisi 9 persen, Tony berharap otoritas moneter mampu mempertahankan tingkat suku bunga tersebut hingga akhir tahun. Menurutnya, hal itu diperlukan untuk memberi ruang pada sektor perbankan dan keuangan melakukan ekspansi kredit pada kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat.
Dalam Federal Open Market Committee (FOMC) kemarin malam, Bank Sentral AS memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan pada level 2 persen. Bank Sentral menyebutkan, kebijakan tersebut dilakukan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus pengendalian laju inflasi.
Sejak September 2007, Bank Sentral AS telah menurunkan tingkat suku bunga secara bertahap hingga 3,25 persen. Namun setelah penetapan tingkat suku bunga 2 persen kali ini, Bank Sentral AS mensinyalkan untuk tidak lagi menaikkan suku bunga terlalu cepat mengantisipasi kenaikan laju inflasi negara tersebut.
(Zaenal Muttaqin /Sindo/ade)