kolom ekonomi


Menebak Angka Pertumbuhan Ekonomi

Senin, 11 Agustus 2008 - 11:34 wib
text TEXT SIZE :  

PADA 15 Agustus mendatang, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal II sekaligus semester I 2008.

Seperti apa angka PDB selama kuartal II? Apakah pertumbuhan ekonomi kuartal II lebih tinggi atau justru lebih rendah dibandingkan kuartal I? Hal ini merupakan bahan tebak-tebakan yang menarik untuk para ekonom.

Berbagai informasi yang muncul selama Juli 2008 merupakan input menarik yang bisa digunakan untuk memprediksi angka PDB. Berbagai perusahaan yang tercatat di lantai bursa (emiten) melaporkan kinerjanya dan sebagian besar menunjukkan kinerja fenomenal. Selain manufaktur, agroindustri, dan pertambangan, kinerja yang bagus juga dilaporkan oleh industri perbankan.

Pertumbuhan kredit yang melonjak selama semester I ini membuat laba perbankan meningkat. Bank Central Asia (BCA) bahkan melaporkan pertumbuhan kredit tahunan yang hampir mencapai 50%. Dari berbagai laporan ini, kita terbawa pada suatu sentimen bahwa perekonomian Indonesia di kuartal II tampaknya menunjukkan kinerja jauh lebih baik dibanding yang terpikirkan oleh banyak pihak.

Dalam suatu percakapan, AW Sudhamek, seorang chief executive officer (CEO) perusahaan barang-barang konsumsi yang namanya terkenal di Indonesia, menyatakan keheranannya mengapa berbagai berita yang ada tidak terefleksi pada hasil penjualan perusahaannya. Berbagai berita dan analisis di media sering menunjukkan suasana muram, bahkan keterpurukan dalam perekonomian kita.

Tetapi mengapa kinerja perusahaannya jauh lebih baik dari itu? CEO tersebut mengatakan, target penjualan pada bulan-bulan pertama 2008 yang mereka siapkan akhir tahun lalu sudah jauh terlampaui dengan jarak cukup besar. Selain perusahaan itu, Indofood melaporkan pertumbuhan penjualan sampai sekitar 25% pada semester I 2008 ini.

Unilever, perusahaan konsumen multinasional yang produknya menjangkau pelosok-pelosok desa, juga mendapatkan pengalaman yang sama. Penjualannya meningkat sampai lebih dari 23%, meskipun sebagian dipicu oleh kenaikan harga. Kendati demikian, di tengah kenaikan harga produk mereka, yang menjadi suatu kejutan adalah volume penjualan pun tetap meningkat. Penjualan sepeda motor secara nasional selama Semester I 2008 meningkat pesat, yaitu 45%.

Berdasarkan kinerja semester I itu, maka sepanjang 2008 penjualan sepeda motor diperkirakan mencapai enam juta unit. Demikian pula penjualan mobil. Selama semester I 2008 telah mencapai 292.589 unit atau 67% dari seluruh penjualan pada 2007 lalu, sehingga target penjualan sepanjang tahun sebanyak 520.000 unit tampaknya akan terlampaui. Penjualan mobil selama semester I naik 48,2% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Yang menarik, pertumbuhan penjualan sepeda motor dan mobil ternyata ditopang tingginya pertumbuhan penjualan di luar Jawa. Untuk penjualan sepeda motor bahkan bisa dikatakan proporsinya 50% untuk luar Jawa dan 50% untuk Jawa. Ini menunjukkan pergeseran peranan yang cukup besar antara pasar di Jawa dan luar Jawa.

Angka PDB

Baru-baru ini Bank Indonesia (BI) merilis prediksi perekonomian Indonesia pada kuartal II dan mengatakan bahwa perekonomian akan tumbuh sekitar 6%. Angka ini berarti lebih rendah dibandingkan kuartal I. Prediksi ini mirip dengan yang dikemukakan BI saat memperkirakan pertumbuhan pada kuartal I.

Saat itu BI menebak pertumbuhan ekonomi 6%, namun kemudian realisasi yang diumumkan BPS ternyata mencapai 6,3%. Karena itu, menjadi menarik untuk melihat berapakah angka pertumbuhan PDB yang akan diumumkan BPS? Saya sering menulis mengenai fenomena underreporting yang terjadi dalam statistik kita.

Dari berbagai tulisan itu, dapat disimpulkan empat alasan yang membuat saya yakin terjadinya fenomena tersebut. Pertama, terdapat perbedaan yang sangat tajam antara pertumbuhan PDB nominal dengan PDB riil. Pada 2005, PDB nominal tumbuh 22,5%,sedangkan riilnya sebesar 5,6%. Pada 2006, PDB nominal tumbuh 19,8%, sedangkan riil tumbuh 5,5%. Tahun 2007, PDB nominal tumbuh 18,5%, sedangkan PDB riil 6,3%.

Khusus untuk 2005, selisih antara pertumbuhan nominal dan riil tersebut sangat jauh melampaui inflasi yang diukur oleh indeks harga konsumen. Ini berarti ada ruang yang mungkin pertumbuhan ekonomi riilnya lebih tinggi dibandingkan yang terlaporkan. Kedua, ada beberapa sektor tertentu yang memiliki indikasi adanya pelaporan lebih rendah, bahkan untuk PDB nominalnya.

Sebagai contoh, kontribusi PDB dari subsektor perkebunan jauh lebih rendah dibandingkan kinerja ekspornya. Apalagi kalau ditambah konsumsi sektor perkebunan untuk pasar domestik, maka selisihnya semakin melebar. Demikian juga sektor pertambangan, terutama batu bara dan produk mineral lain yang tampaknya jauh lebih rendah.

Bahkan sektor industri manufaktur juga tidak mencerminkan kinerja dari berbagai perusahaan publik yang mewakili perusahaan manufaktur secara keseluruhan. Saya bahkan yakin bahwa dugaan terjadinya deindustrialisasi beberapa waktu lalu sungguh tidak berdasar. Ketiga, terdapat anomali antara pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) di luar Jawa dibandingkan cerita kebangkitan perekonomian luar Jawa.

PDRB Sumatra pada 2007, misalnya, sebesar 4,8%. Itu jauh lebih rendah dibandingkan PDRB Pulau Jawa yang tumbuh 6,1%. Sementara itu, berbagai cerita dari dunia usaha menunjukkan pertumbuhan permintaan yang tinggi di luar Jawa. Demikian juga pertumbuhan dana perbankan di luar Jawa yang juga mencapai jumlah lebih tinggi dibandingkan di Jawa.

Keempat, terjadinya krisis listrik dan infrastruktur lain yang mencerminkan adanya pertumbuhan permintaan yang jauh melebihi kemampuan suplai. Hal ini lagi-lagi menunjukkan adanya pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih tinggi dibanding dugaan sebelumnya.

Dari berbagai alasan tersebut, sebetulnya saya menduga bahwa perekonomian Indonesia telah tumbuh di atas apa yang terlaporkan saat ini, yaitu sekitar 6,3%. Dugaan saya, pertumbuhan ekonomi lebih dari 7%, bahkan bukan tidak mungkin telah mencapai sekitar 8% per tahun.

Kendati demikian, dengan melihat kebiasaan BPS dalam mengeluarkan statistik makroekonomi,saya memprediksi angka pertumbuhan ekonomi yang akan dikeluarkan oleh BPS untuk kuartal II 2008 akan mencapai 6,2-6,6%. Namun, saya sungguh yakin bahwa pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya berada pada level di atas 7%. (*)

Cyrillus Harinowo
Rektor ABFII Perbanas

(//mbs)