JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) menyatakan pertumbuhan kredit sebesar 31,6 persen pada semester I-2008 belum mampu menggerakkan subsistem perekonomian nasional karena belum dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha. Kadin juga menilai pernyataan Bank Indonesia (BI) tentang pertumbuhan kredit akan melampaui target terlalu subjektif.
"Klaim BI bahwa pertumbuhan kredit akan melampaui target terlalu subyektif karena pelaku usaha justru merasakan sebaliknya. Bahkan pertumbuhan kredit selama semester I-2008 sebesar 31,6 persen belum mampu menggerakkan seluruh subsistem perekonomian nasional," kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo di Jakarta, Selasa (12/8/2008).
Menurut Bambang, dalam mencapai pertumbuhan kredit antara BI dan perbankan harus bertumpu pada sektor atau subsektor perekonomian seperti perkebunan maupun energi. Sedangkan kesan subyektif muncul karena klaim tidak pernah disertai rincian jumlah investasi baru, penyerapan kredit modal kerja maupun sektor konsumsi serta penyaluran kredit UMKM atau KUR yang tepat sasaran.
"Tumbuhnya permintaan kredit di sektor energi dan perkebunan bukan karena kerja keras bank, melainkan kebutuhan energi yang meningkat. Jadi, perbankan yang tidak kreatif justru tertolong oleh keadaan," jelasnya.
(Tomi Sujatmiko/Sindo/ade)