kolom ekonomi


Ketika UOB Buana dalam Dekapan UOB Singapura

Selasa, 12 Agustus 2008 - 08:50 wib
text TEXT SIZE :  

PERTENGAHAN Juni 2008, United Overseas Bank Limited (UOB) Singapura mengumumkan rencana akuisisi terhadap PT Bank UOB Buana Tbk (BBIA).

Seperti diketahui, saham UOB Buana saat ini dimiliki UOB Singapura sebanyak 61,13 persen, PT Sari Dasa Karsa 26,75 persen, dan publik 12,12 persen.Dengan rencana akuisisi sebesar 38,87 persen atau senilai sekitar Rp3,1 triliun, berarti UOB akan menguasai 100 persen saham UOB Buana. Bagaimana wajah UOB Buana ditangan UOB nanti? Sebelum lebih jauh, mari kita telusuri dulu keperkasaan UOB. Singapura memiliki 29 bank.

Lima di antaranya adalah bank lokal, yakni Bank of Singapore Ltd, UOB, Development Bank of Singapore (DBS), Oversea-Chinese Banking Corporation (OCBC), dan Far Eastern Bank Ltd. Satu bank merupakan perusahaan anak bank asing. Sisanya, 23 bank merupakan kantor cabang bank asing.

UOB yang berdiri pada 1935 merupakan bank peringkat pertama dalam total aset. Bukan hanya itu, UOB di bawah UOB Group dengan 500 kantordi18negaramerajai Asia Tenggara.Dalam sepuluh besar bank di Asia Tenggara, UOB mengungguliMalayanBanking (Maybank), Bangkok Bank, CIMB Bank, Public Bank, Krung Thai Bank, Bank Mandiri, dan Siam Commercial Bank.

Di bawah kendali manajemen UOB, tentu UOB Buana akan kian kokoh dalam manajemen perbankan, teknologi informasi, dan sumber daya manusia, mengingat UOB mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantages) lebih tinggi.

Ini semua bermanfaat untuk meningkatkan manajemen kinerja (performance management) UOB Buana sebagai bank komersial di Indonesia ke depan. Lalu, segmen bisnis mana yang bakal digarap? Pertama, mirip UOB, UOB Buana akan tetap dikembangkan sebagai bank yang unggul dalam perbankan ritel (retail banking).

Apa itu perbankan ritel? Perbankan ritel adalah bank yang melakukan berbagai transaksi yang lebih berhadapan dengan nasabah daripada korporasi atau bank.Jasa yang ditawarkan, antara lain giro, tabungan, deposito, kartu kredit, kredit kendaraan bermotor (KKB), kredit pemilikan rumah (KPR), dan kredit tanpa agunan (KTA). Hal itu sudah menjadi kiblat bisnis UOB Buana selama ini.

Dengan dukungan modal perkasa, UOB Buana akan menggalakkan produk pembiayaan kredit konsumsi, kredit modal kerja,dan kredit investasi. Mengapa ke sana? Sebab, pendapatan dari bunga kredit (interest income) masih merana sehingga hampir semua bank nasional terjun ke pendapatan nonbunga alias fee-based income.

Kedua, UOB Buana akan memperluas bisnis manajemen kekayaan (wealth management). Ini mudah dipahami, mengingat UOB merupakan pakar private banking yang telah teruji di Singapura sebagai salah satu poros (hub) keuangan internasional.

Alhasil, UOB Buana bersama induk semangnya akan menempatkan kekayaan orang berduit Nusantara di sana untuk dikembangbiakkan di berbagai instrumen investasi, antara lain bursa saham, bursa perdagangan, investasi ekuitas, produk tabungan yang terstruktur,produk investasi terstruktur,dan derivatif. Juga pasar devisa, reksa dana, manajemen dan investasi properti.

Ketiga, perbankan investasi (investment banking).Dengan dukungan bank nomor wahid di Asia Tenggara, UOB Buana akan melirik produk investasi. Katakanlah, Obligasi Negara Ritel (ORI) dengan tingkat kuponyanglebihmenggiurkan dibanding deposito 12,05 persen, 9,28 persen, 9,40 persen, dan 9,50 persen masing-masing untuk ORI 001, ORI 002, ORI 003, dan ORI 004.

Begitu pula surat utang negara (SUN) dengan tingkat kupon antara 11 persen dan 15,425 persen,tergantung pada serinya. Tak ketinggalan, bancassurance juga akan menjadi titik bidik bisnis. Sulit bagi UOB Buana untuk berebut madu dengan bank papan atas, seperti Bank Mandiri, BCA, BRI, BNI, Bank CIMB Niaga, Bank Danamon, BII, Panin Bank, Bank Permata dan BTN.

Mengapa? Karena pangsa pasar UOB Buana masih kecil. Bagaimana UOB Buana memperbesar pangsa pasar? UOB Buana akan memperluas pembukaan kantor di luar Ibu Kota. Langkah ini sudah dilakukan Citibank dan HSBC dengan membuka kantor di kota besar potensial, seperti Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Medan, Makassar.

Penambahan jaringan akan memperluas skala ekonomi UOB Buana, antara lain dengan menyebar biaya administrasi kepada unit operasional yang lebih luas. Penetrasi pasar kian licin sehingga kue yang diperoleh juga akan kian besar.Kelak UOB Buana bakal menjadi pesaing berat bagi siapa saja! Namun, mengapa UOB mau menguasainya? Indonesia merupakan mega pasar yang sarat madu dan susu.

Mana buktinya? Tengok saja pengalaman manis Temasek. Sejak membeli Bank Danamon pada 2003, Temasek telah mengantungi pendapatan dividen (di luar dividen interim) sebesar Rp 2,8 triliun dari total dividen Rp 3,8 triliun.

Angka itu hampir mendekati nilai pembelian Bank Danamon oleh Temasek dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) senilai Rp 3,08 triliun.Wow! Apa artinya bagi bank nasional? Mereka kian sulit bersaing dengan "bank asing" alias bank nasional yang mayoritas sahamnya telah dipeluk pihak asing.Cekaknya modal akan membatasi kiprah mereka.

Saatnya pemerintah melindungi bank nasional dengan menghentikan pemilikan mayoritas saham oleh pihak asing. Ada pandangan yang mengatakan kinerja bank swasta nasional yang telah dikuasai pihak asing makin membaik. Mungkin. Tetapi, siapa yang menjamin keuntungan itu untuk memperkokoh perbankan nasional? (*)

Paul Sutaryono
Pengamat dan Praktisi Perbankan 
(//rhs)