JAKARTA - Kelompok industri nonmigas ditargetkan tumbuh dua digit atau 50 persen pada 2012. Tapi target itu tidak termasuk pada kelompok industri barang dari kayu dan hasil hutan.
Pengecualian itu karena melihat kapasitas produksi untuk industri barang kayu dan hasil hutan menurun setiap tahunnya.
Demikian dikatakan Menteri Perindustrian Fahmi Idris, dalam Forum Majelis Permusyawaratan Organisasi Kemasyarakatan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), di Jakarta, Rabu (13/8/2008).
Fahmi menjelaskan, pada 2004 kapasitas produksi untuk industri barang kayu dan hasil hutan turun 64,8 persen. Pada 2005 turun 64,7 persen. Pada 2006 turun 63,4 persen dan 2007 turun 63,5 persen.
Cabang industri yang bisa diharapkan menyumbang nilai tambah pada 2012 adalah industri makanan minuman dan tembakau, serta industri alat angkut dan mesin dan peralatan.
"Cabang-cabang tersebut bisa digabung dengan yang lain ditargetkan bisa menghasilkan nilai tambah industri nonmigas Rp735,4 triliun," jelas Fahmi.
Pertumbuhan industri nonmigas pada dua tahun terakhir ini, jelas Fahmi, di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2006 hanya tubuh 5,27 persen dan 2007 tumbuh 5,15 persen.
Hal itu karena turunnya pertumbuhan beberapa kelompok seperti industri makanan dan tembakau yang pada 2006 sebesar 7,21 persen menjadi 5,05 persen pada 2007. Industri tekstil tumbuh negatif dari 1,23 persen pada 2006 menjadi minus 3,68 persen.
Penurunan itu akibat berkurangnya pasokan bahan baku hasil hutan, meningkatnya harga energi, dan beredarnya isu penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak boleh digunakan untuk industri makanan dan minum.
(rhs)