JAKARTA - Departemen Keuangan mencatat penurunan rata-rata imbal hasil atau yield obligasi negara atau surat utang negara (SUN) turun 200 basis poin dalam satu bulan terakhir.
Ini terutama disebabkan oleh kepercayaan pasar yang semakin baik terhadap APBN-P 2008, menyusul turunnya harga minyak mentah dunia "Yield sudah turun sejak Juni. Hal ini membuat nyaman para investor," kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Anggito Abimanyu, di Gedung Depkeu, Jakarta, Rabu (13/8/2008).
Dari sisi pembiayaan, realisasi penerbitan obligasi negara hingga 31 Juli 2008 (gros) Rp115 triliun atau sekira 74 persen dari target pemerintah.
Anggito mengatakan, pemerintah tetap akan menerbitkan surat berharga negara (SBN) sesuai dengan target yang ditetapkan, yaitu Rp117 triliun. Meskipun Depkeu memperkirakan defisit pembiayan APBN-P 2008 akan berada di kisaran 1,5-1,8 persen dari PDB.
Dia menjelaskan, penurunan yield salah satunya ditunjang pergerakan nilai tukar rupiah terhadap USD. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap USD meski secara rata-rata masih berada di atas asumsi APBN-P 2008, namun dalam satu bulan terakhir cukup stabil mendekati asumsi APBN-P 2008 sebesar Rp9.100 per USD.
Sementara itu, realisasi komponen pembiayaan defisit lainnya di luar SBN bisa di bawah target. Misalnya penjualan aset oleh perushaan pengelolaan aset baru sebesar Rp800 miliar atau 20 persen dari proyeksi pinjaman program senilai Rp3,8 triliun atau sekira 14,9 persen dari estimasi. Privatisasi BUMN sebesar Rp100 miliar atau 20 persen dari estimasi dan rekening dana investasi (RDI) sebesar Rp3,5 triliuan atau 47 persen dari perkiraan.
(Muhammad Ma'ruf/Sindo/rhs)