JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2008 yang tercatat Badan Pusat Statistik 6,39 persen dinilai tidak berkualitas, bahkan tidak merata.
"Jadi ini pertumbuhan yang tidak adil," tegas Anggota Komisi XI DPR Drajad Wibowo, dalam pesan singkatnya kepada okezone, di Jakarta, Jumat (15/8/2008).
Pertumbuhan tersebut, semakin menegaskan adanya paradoks kesejahteraan ekonomi Indonesia, yaitu ada pertumbuhan yang dinikmati kelopok atas terutama perusahaan-perusahaan besar, antara lain perkebunan, pertambangan, keuangan, pasar modal, dan telekomunikasi.
"Tapi di sisi lain sebagian besar pelaku usaha terutama usaha ekonmi rakyat dan pedagang tradisional justru merosot," ujarnya.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2008 secara year on year (YoY) sebesar 6,39 persen. Secara quartal to quartal (Q to Q) tercatat 2,44 persen.
Berdasarkan penghitungan BPS, baik secara Q to Q atau YoY, pertumbuhan tersebut tercatat lebih tinggi dari pencapaian kuartal pertama tahun ini. Pada kuartal I-2008, pertumbuhan Q to Q sebesar 2,19 persen dan YoY 6,32 persen.
(rhs)