BANGKOK - Pemerintah RI mendekati General Motors Corp (GM), raksasa automotif Amerika Serikat, untuk menanamkan modal di Indonesia.
Untuk itu, pemerintah telah menjanjikan sejumlah insentif. Salah satunya berupa kemudahan penyediaan bahan baku dan komponen. "Untuk bahan baku dan komponen, sesuai PP No 1/ 2007, pemerintah yang menanggung bea masuknya," kata Direktur Jenderal Industri Alat Berat dan Telematika Departemen Perindustrian (Depperin) Budi Darmadi, saat ditemui di sela General Motors Environment and Energy Automotive Technology Symposium di Impact Muang Thong Thai, Bangkok, Kamis (14/8/2008) kemarin.
Selain itu, kata Budi, pemerintah juga telah menyediakan insentif berupa pengurangan pajak penghasilan (PPh) hingga 30 persen dari nilai investasi yang ditanamkan."Kami berharap GM membuka kembali pabrikperakitannya diIndonesia. Kami sudah melakukan berbagai pendekatan untuk itu," ujarnya.
Direktur Industri Alat Transportasi Darat dan Kedirgantaraan Depperin Syarif Hidayat mengatakan, untuk mendukung pertumbuhan industri automotif di Tanah Air, pemerintah telah melakukan kerja sama bilateral. Salah satunya dengan Jepang, yakni menetapkan bea masuk 0 persen untuk bahan baku pelat baja dan mobil dengan kapasitas 3.000 cc.
GM dan Thailand Mesra
Sementara itu, Chairman dan CEO GM Richard Wagoner menegaskan, GM memberikan dukungan penuh kepada Pemerintah Thailand yang tengah fokus mengembangkan kendaraan hemat energi dan ramah lingkungan.
"GM akan berperan sebagai fasilitator penunjang pengembangan dan memberikan alih teknologi energi dan isu lingkungan hidup yang diperlukan negara-negara Asia Tenggara," paparnya.
Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Thailand Samak Sundaravej menyatakan saat ini Thailand sedang melakukan upaya serius mengembang kan sarana transportasi berbasis bahan bakar alternatif. "Harga minyak sekarang ini sudah tidak masuk akal," ujar Sundaravej.
"Negara kami telah menerapkan teknologi energi alternatif yang sangat sederhana di mana alkohol yang kami sebut sebagai etanol bisa dijadikan sumber penggerak kendaraan yang murah dan mudah diproduksi," tandas Sundaravej.
(sindo//rhs)