JAKARTA - Laba bersih kelompok usaha agribisnis dan produsen minyak goreng, Indofood Agri Resources Ltd pada semester I-2008 melonjak 263 persen menjadi 185 juta dolar singapura atau Rp1,3 triliun. Kenaikan pendapatan usaha menjadi pemicu pertumbuhan tersebut.
"Pendapatan perseroan pada semester I/2008 naik 132 persen menjadi 903 juta dolar Singapura atau Rp6,1 triliun," kata CEO dan Executive Director IndoAgri Mark Wakeford dalam pernyataan tertulisnya di Jakarta, Jumat (15/8/2008).
Pendapatan usaha perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Singapura (Singapura Stock Exchange/SSE) ini disumbangkan peningkatan penjualan di seluruh unit usaha, yaitu volume penjualan, kenaikan harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) serta kontribusi dari anak usaha yang baru diakusisi yaitu PP London Sumatera Indonesia Tbk (LSIP) di tahun 2007.
Pada Juli 2008 perseroan telah menyelesaikan pembiayaan kembali utang (refinancing) atas fasilitas bridging loan dalam rangka akuisisi LSIP senilai Rp4 triliin. Adapun posisi rasio utang bersih terhadap ekuitas sebesar 0,34.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan, jelas Mark, laba kotor juga melonjak tajam 251 persen menjadi Rp2,3 triliun (334 juta dolar Singapura), sedangkan margin laba kotor naik 37 persen dibandingkan periode yang sama 2007 sebesar 24 persen.
Menurut Mark, divisi perkebunan memberikan kontribusi terbesar yaitu 90 persen terhadap laba usaha grup. Pendapatan bersih divisi ini melambung 344 persen yang dipicu kenaikan harga penjualan dan naiknya volume penjualan CPO menjadi 344.240 matrik ton (MT) dari sebelumnya 134.731 MT.
Selain itu, pendapatan divisi minyak goreng dan lemak nabati juga mengalami kenaikan 79 persen yang dipicu melonjaknya harga jual dan pertumbuhan volume penjualan minyak goreng bermerek sebesar 18 persen. Sedangkan pendapatan divisi komoditi naik 42 persen yang dipicu kenaiakan harga jual rata-rata produk berbasis minyak kelapa sawit dan kopra.
Menurut Mark, meski biaya penjualan dan biaya umum administrasi secara keseluruhan mengalami kenaikan sehubungan dengan peningkatan pajak ekspor, namun EBITDA perseroan naik 276 persen menjadi Rp2,1 triliun (305 juta dolar Singapura).
(Whisnu Bagus /Sindo/rhs)