JAKARTA - Naiknya subsidi pupuk saat ini salah satunya disebabkan adanya kenaikan harga gas dan bahan baku lain untuk pupuk non-urea.
"Harga pupuknya naik. Sangat luar biasa. Volume tetap. Salah satunya disebabkan kenaikan harga gas dan bahan baku lain untuk pupuk nonurea," ujar Menteri Pertanian Anton Apriantono kepada wartawan di Jakarta, Jumat (15/8/2008) malam.
Kendati demikian, Anton mengatakan, Departemen Pertanian akan menambah jumlah pupuk organik. "Subsidi pupuk naik bukan karena volumenya, tapi karena harganya yang naik. Kenaikan harga pupuk urea bisa 3-4 kali lipat," tambahnya.
Anton memaparkan, harga pupuk di luar negeri cukup mahal, yaitu USD600 per ton. Sementara untuk subsdi pupuk 2008 nilainya hanya Rp14,7 triliun. Angka tersebut akan naik menjadi Rp20,4 triliun tahun 2009 mendatang.
"Saat ini, pabrik urea hanya satu, dan bahan bakunya dari luar Indonesia semua. Karena itu, solusinya kita akan kembangkan pupuk organik, di mana petani bisa menyediakan sendiri dan kita beri fasilitas untuk pembuatan pupuk organik," urai Anton.
Dia juga mengungkapkan bahwa dana pengembangan pupuk organik ini nantinya tidak akan diambil dari dana subsidi pupuk yang sebesar Rp20,4 triliun pada tahun 2009.
Berkaitan dengan program tersebut, dia mengungkapkan bahwa pengembangan pupuk organik ini sejalan dengan program pengembangan sapi yang kotorannya bisa dibuat pupuk.
(ade)