JAKARTA - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mulai bersikap tegas kepada Qatar Telecom (Qtel) terkait penawaran tender (tender offer) atas saham PT Indosat Tbk.
Meski tidak berencana menjatuhkan sanksi, Bapepam berjanji tidak memberikan kelonggaran kepada Qtel. "Tidak ada toleransi lagi, kita akan desak mereka," ujar Ketua Bapepam-LK Fuad Rahmany di Jakarta, Jumat (16/8/2008) sore.
Qtel sebenarnya telah mendaftarkan rencana penawaran tendernya pada Juli lalu, menyusul pembelian 40,8 persen saham Indosat dari Singapore Telemedia Pte Ltd (ST Telemedia). Namun, Qtel tampaknya masih enggan melaksanakannya karena keberatan dengan aturan batas kepemilikan asing di perusahaan telekomunikasi.
Merujuk pada ketentuan daftar negatif investasi (DNI) dalam Peraturan Presiden No 77/2007, Qtel hanya diperkenankan memiliki hingga 49 persen saham Indosat. Karena itu, Bapepam meminta Qtel untuk mematuhi aturan tersebut dan melakukan tender offer terbatas pada 8,2 persen saham publik yang masih bisa dikuasainya.
"Saya sudah bilang ke mereka (Qtel) mengenai batasan kepemilikan 49 persen, tetapi mereka belum yakin dan tetap ngotot," kata Fuad. Menurutnya, pihaknya sudah memberikan kesempatan kepada Qtel untuk meminta klarifikasi kepada Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) mengenai hal itu dan jawaban dari Menkominfo sudah jelas, yaitu sesuai Perpres 77/2007.
Untuk itu, Bapepam tidak akan memberikan toleransi lagi kepada Qtel. "Pekan ini kita sudah hubungi Qtel dan kita katakan tidak akan ada toleransi lagi," ungkapnya. Sementara itu, terkait tender offer Malayan Banking Berhad (Maybank), Fuad menunjukkan sikap yang berbeda.
"Pokoknya bola ada di tangan mereka. Maybank bilang akan segera. Tidak ada lagi dari Bapepam yang perlu diungkapkan," tuturnya. Menanggapi pernyataan Bapepam, Analis Independen Aspirasi Indonesia Institute Yanuar Rizky mengungkapkan, aturan tender offer terindikasi membela kepentingan pihak tertentu.
"Aturan tender offer sudah memberikan angin dan seolah-olah ada jalan keluar untuk mereka (investor asing)," tandasnya.
(sindo//ade)