JAKARTA - Program konversi minyak tanah ke gas kembali mengalami kendala. Operasional di 17 perusahaan baja nasional yang memproduksi tabung gas ukuran 3 kilogram (kg) untuk program tersebut tersendat.
Hal itu karena perusahaan tersebut belum memegang RO (Repeat Order) dari PT Pertamina. RO ini terkait pemesanan baja dari PT Krakatau Steel (PT KS). Dengan tidak adanya RO, maka KS tidak bisa mengirim baja ke perusahaan. Sehingga pasokan baja tertumpuk di KS. "Kita harus segera mengirim surat ke Pertamina supaya menerbitkan RO ke pabrik. Kita akan kirim surat itu besok," kata Direktur Logam Depperin, Putu Suryawirawan di Gedung Depperin, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (19/8/2008).
Saat ini, operasional 17 perusahaan tersebut terhenti. Kondisi itu sudah terjadi sejak dua pekan lalu. Depperin tidak bisa memastikan kapasitas 17 perusahaan itu. Diharap kapasitasnya tergolong kecil. Karena perusahaan yang berkapasitas besar tidak hanya memproduksi tabung elpiji ukuran 3 kg.
"17 perusahaan itu statusnya idle. Kalau idle, pabrik untuk kembali beroperasi berat. Perlu start up pelan-pelan sampai kapasitas tinggi baru bisa beroperasi," tambahnya.
Permasalahan tenaga kerja di perusahaan itu juga akan semakin menganggu kelancaran produksi. "Produksi di 17 perusahaan ini terganggu, program konversi juga terganggu.Yang dikhawatirkan seolah olah industri dalam negeri tidak sanggup," ujarnya.
Namun, melihat target pengadaan tabung hingga September mendatang, Depperin melihat masih ada celah untuk mencapai target ini. "Programnya kan Juli,Agustus,September. Berarti masih ada waktu," pungkasnya.
(ade)