JAKARTA - Kalangan pengusaha menyangsikan target pertumbuhan investasi 12,1 persen pada tahun 2009. Kondisi ekonomi dalam negeri yang terus memburuk menjadi alasan kesangsian kalangan pengusaha.
"Target pertumbuhan investasi 12,1 persen pada tahun depan termasuk tinggi jika kita mengacu pada kondisi dalam negeri terkini," ujar Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bambang Soesatyo, di Jakarta, Selasa (19/8/2008).
Bambang mengungkapkan, defisit listrik yang berkepanjangan dan lemahnya daya beli masyarakat menyebabkan daya saing nasional sebagai tujuan investasi sangat rendah. Menurutnya, hal ini menggugurkan keunggulan Indonesia sebagai pasar besar di mata kalangan investor. "Tak ada investor yang mau direcokin oleh urusan daya listrik," kata dia.
Kondisi tersebut, jelasnya, semakin bertambah karena pada tahun yang sama berlangsung pemilihan umum. Kalangan investor diperkirakan bakal memilih sikap menunggu untuk merealisasikan investasi selama pemilu masih berlangsung.
Menyinggung tiga program pemerintah yang dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan memperkuat daya tahan ekonomi, yaitu pembangunan infrastruktur, pertanian, dan energi, Bambang menyarankan pemerintah untuk menempatkan program energi sebagai prioritas pertama, terutama daya listrik.
"Cobalah bekerja keras memenuhi permintaan riil daya listrik, khususnya untuk kebutuhan sektor industri. Kalau permintaan daya listrik tak bisa dipenuhi, jangan bicara target pertumbuhan investasi 12,1 persen," tegasnya.
Pada program prioritas infrastruktur, jelasnya, pemerintah sebaiknya fokus pada perbaikan jalan, jembatan, pelabuhan-pelabuhan utama guna menunjang kelancaran arus barang dan jasa. Sedang program pertanian, pemerintah diminta fokus pada perbaikan sistem irigasi dan pengairan. Hal ini untuk menunjang pelaksanaan program ketahanan pangan nasional.
Pada tahun 2009, pemerintah menargetkan pertumbuhan investasi sebesar 12,1 persen. Untuk mengejar target, pemerintah mengalokasikan anggaran Rp77,7 triliun. Anggaran tersebut masing-masing dialokasikan untuk pembiayaan kegiatan yang menunjang pertumbuhan ekonomi sebesar Rp37,2 triliun, menjaga stabilisasi ekonomi Rp978,2 miliar, dan pelaksanaan pembangunan infrastruktur dan energi sebesar Rp39,5 triliun.
Secara terpisah, Ketua Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto mengatakan, target pertumbuhan investasi 12,1 persen sangat bergantung pada kinerja pemerintah dalam memajukan tiga hal.
Pertama, pengelolaan asumsi makro seperti asumsi harga minyak yang tepat. Kedua, pengelolaan dan perbaikan disamping pembangunan sarana infrastruktur. Ketiga, meneruskan pengelolaan kebijakan fiskal yang tepat terutama pada disiplin anggaran, reward and punishment, dan insentif fiskal.
"Sedang kalau faktor-faktor eksternal seperti inflasi dan harga minyak tinggi, saya kira itu hanya nomor dua dalam mempengaruhi pertumbuhan investasi kita. Internal harus betul-betul diperkuat guna mendorong growth penanaman modal," ujarnya.
Djimanto memperkirakan, sektor-sektor pertambangan dan perkebunan yang saat ini mengalami ?booming' masih akan mendominasi kontribusi pertumbuhan investasi tahun depan.
"Karena itu, kami menginginkan pemerintah betul-betul serius mendorong sektor manufaktur. Jangan dilupakan, sektor ini yang paling berperan menyerap angkatan kerja dan menyumbang penerimaan pajak yang tinggi bagi negara," paparnya.
(Zaenal Muttaqin /Sindo/rhs)