JAKARTA - Asumsi RAPBN 2009 yang dipatok tinggi oleh pemerintah dinilai akan digerogoti dua hal, yakni krisis listrik dan lambannya penyerapan anggaran.
"Dua persoalan ini bisa memperlemah kemampuan pemerintah dalam merealisasikannya," kata Ketua Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Susatyo, melalui pesan singkatnya kepada okezone, di Jakarta, Selasa (19/8/2008).
Meski target konsumsi dipatok 24,3 persen, namun menurutnya, kalau belanja kementerian lembaga sangat rendah pada semester I-2009 maka akan tidak berdampak pada pertumbuhan sektor riil.
Akibat dua permasalahan tersebut, target investasi pemerintah sebesar 17,2 persen juga menjadi tidak mudah terwujud.
Sekadar pembanding, lanjut Bambang, proyek dalam APBN-P 2008 banyak yang tidak direalisasikan, karena pemerintah hingga pekan ini tidak membuat kebijakan final, atas eskalasi harga proyek.
"APBN tahun mendatang pasti punya kontribusi positif pada perekonomian Indonesia. Apakah kontribusi itu maksimal atau minimal, inilah yang menjadi persoalan. Persoalan ini di luar masalah klasik seperti iklim berusaha yang belum kondusif serta lemahnya daya beli rakyat. Pemerintah dihadapi dua persoalan serius," jabarnya.
Pemerintah boleh saja mematok target yang tingi, namun Bambang mengingatkan pemerintah harus realistis dengan kondisi kesiapan melayani proyek investasi.
(rhs)