Finance


Meneg BUMN Diminta Jadi Wasit Akuisisi MNA

Selasa, 19 Agustus 2008 - 12:51 wib
text TEXT SIZE :  

JAKARTA - Akuisisi PT Jasa Marga Tbk (JSMR) terhadap 55 persen saham PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) dari sebelumnya 1,7 persen dinilai mengejutkan.

Pasalnya, sebelumnya kompetitor lainnya PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) telah melakukan due delligence (uji tuntas) terhadap pemilik konsesi ruas tol Surabaya-Mojokerto ini. WIKA meminta agar Meneg BUMN Sofyan Djalil menjadi penengah persoalaan tersebut.

"Kan ada Meneg BUMN yang menjadi wasit," kata Corporate Secretary WIKA Imam Sudiyono saat dihubungi di Jakarta, Selasa (19/8/2008).

Imam mengungkapkan, proses akuisisi itu cukup mengejutkan. Pasalnya, sebelumnya WIKA telah melakukan pembicaraan dengan MNA untuk mengakuisisi 70 persen saham operator jalan tol tersebut.

Pembicaraan kedua perusahaan tersebut sudah sampai ke tahap nilai akuisisi yang diperkirakan mencapai Rp300 miliar. Bahkan, WIKA telah membentuk anak usaha PT Wijaya Tama Perkasa bersama sejumlah mitra usaha lainnya guna keperluan tersebut.

Adapun saham WIKA di di Wijaya Tama Perkasa mencapai 40 persen. "Pembicaraan antara kami dengan MNA sudah hampir final," jelas Imam.

Imam mengungkpakan, rencana WIKA mengakuisisi MNA merupakan salah satu cara perseroan untuk mempermudah kontrak kerjasama WIKA dengan MNA yang telah ditandatangani sebelumnya. WIKA telah memiliki kontrak dengan MNA senilai Rp1 triliun untuk pengerjaan sejumlah proyek MNA.

"Tadinya kami berharap dengan akuisisi MNA, pengerjaan akan lebih lancar," tutur Imam.

Menurut Imam, divestasi (pelepasan) saham MNA disebabkan operator jalan tol tersebut kesulitan keuangan sehingga mereka berencana melepas sahamnya agar pengerjaan proyek lebih cepat. "Jadi ceritanya MNA itu kesulitan dana," jelas Imam.

Dikonfirmasi terpisah Corporate Secretary Jasa Marga Okke Marlina mengungkapkan, dimenangkannya akuisisi MNA oleh Jasa Marga disebabkan BUMN jalan tol tersebut telah memiliki saham 1,7% di MNA. "Oleh karena itu akuisisi kami lebih diprioritaskan ketimbang WIKA. Karena kami pemilik saham di MNA," ujar Okke.

Perebutan dua emiten BUMN kontraktor tersebut masih menunggu keputusan selanjutnya. Apalagi WIKA telah memiliki kontrak senilai Rp 1 triliun dengan MNA, sehingga menjadikan masalah tambah pelik. Mengenai hal ini, Okke menilai, hasil akhir akuisisi tergantung hasil pembicaraan nanti. Namun ia mengisyaratkan kemungkinan kontrak WIKA dengan MNA akan tetap berjalan, meski nantinya MNA akan dimiliki JSMR. "Itu tergantung nanti," ujar Okke
Di satu sisi Imam mengungkapkan, kedua belah pihak telah melakukan pembicaraan dengan Menneg BUMN untuk membahas masalah ini lebih lanjut.

"Bulan Juli lalu kami dan Jasa Marga telah membicarakan ini dengan pak Menteri. Pak Sofyan memberi masukan, seandainya memang jasa Marga yang akhirnya mengakuisisi MNA, maka kontrak WIKA dengan MNA tidak bisa dibatalkan. Jadi kontrak kami dengan MNA tetap akan berjalan," papar Imam.

Direktur Utama JSMR Frans S Sunito sebelumnya mengungkapkan, kesepakatan ini merupakan salah satu langkah untuk merealisasikan komitmen perseroan mewujudkan jalan tol Trans-Jawa.

Sesuai kebijakan perseroan, Jasa Marga harus menjadi pemegang saham mayoritas pada setiap konsorsium perusahaan jalan tol. Selain itu, setiap proyek harus memiliki tingkat kelayakan finansial yang memadai dalam rangka pengembalian investasi. (Whisnu Bagus /Sindo/rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4