JAKARTA - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi pertumbuhan investasi hingga Juni 2008 sebesar 52 persen.
Angka itu terdiri dari investasi asing bertumbuh dari USD4,1 miliar menjadi USD10,38 miliar atau lebih dari 153,2 persen, sementara investasi domestik tumbuh dari USD3,15 miliar menjadi USD0,9 miliar atau terkoreksi 70 persen.
"Total investasi tumbuh dari USD7,2 menjadi USD11,3 miliar atau 56,2 persen," ungkap Ketua BKPM Muhamad Lutfi dalam acara seminar Road Map Penyusunan Penanaman Modal di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (20/8/2008).
Lutfi mengatakan, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, pertama karena pertumbuhan asing didalam negeri sangat tinggi, seperti pertambangan, pulp dan kertas, serta telekomunikasi.
Kemudian adanya orang Indonesia yang ke luar negeri dan kembali masuk dengan memakai perusahaan asing, dengan memakai rekayasa perpajakan yang lebih efisien dan menggunakan badan hukum asing,
"Lalu kita bisa melihat LDR yang hanya 67 persen, artinya masih ada satu ruang yang besar untuk pelaku ekonomi domestik untuk berpartisipasi dalam penanaman modal," ungkapnya.
Di sisi lain, secara agregat melihat pengalaman pada 2005, efek samping kenaikan BBM terhadap investasi biasanya baru dirasakan enam bulan kemudian.
"Jadi mungkin secara paralel kita baru bisa melihatnya pada bulan November, tapi secara keseluruhan masih cukup bagus, terutama sektor telekomunikasi dan pertambangan," ungkapnya.
Asumsi pertumbuhan investasi makro sendiri sebesar 12,1 persen, "Dengan harga komoditas yang baik, iklim investasi yang oke, kita pasti bisa.
(ade)