JAKARTA - Pada tahun 2005 Departemen Pertanian memperkirakan bahwa investasi pada sektor pertanian yang mencakup seluruh kegiatan pendukung agribisnis selama periode 2005-2010 akan mencapai Rp181,1 triliun.
Rinciannya adalah Rp33,5 triliun untuk sektor agribisnis pangan dan holtikultura, Rp87,4 triliun untuk perkebunan, dan Rp62,3 triliun untuk peternakan. "Dari angka-angka tersebut diharapkan ada partisipasi masyarakat sebesar 27,55 persen, pemerintah 7,07 persen dan swasta 65,30 persen," ungkap Anggota BKPM bidang Agribisnis Didiek Hadjar Goenadi seusai acara press conference workshop Penyusunan Roadmap Penanaman Modal di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (20/8/2008).
Sedangkan untuk investasi pada komoditi unggulan (17 komoditi prioritas) dalam periode 2005-2010 diperkirakan mencapai Rp145,7 triliun, dan sebagian besar diantaranya berasal dari pihak swasta yang nilainya mencapai Rp79,4 triliun (54,5 persen). Lalu diikuti oleh kebutuhan investasi publik/masyarakat dan pemerintah yang masing-masing nilainya sebesar Rp52,8 triliun (36,2 persen) dan Rp13,5 triliun (9,3 persen).
Sementara untuk investasi di sektor komoditas masih merupakan primadona. Tiga komoditas yang masih membutuhkan investasi besar diantaranya adalah kelapa sawit, unggas dan tanaman obat, masing-masing diperkirakan mencapai Rp27,4 triliun, Rp24,5 triliun dan Rp21,7 triliun.
"Di sisi lain, investasi untuk komoditas padi, jagung, kedelai, dan tebu masing-masing mencapai Rp14,7 triliun, Rp1 triliun, Rp2,6 triliun dan Rp8,2 triliun," lanjutnya.
(ade)