ekonomi global


Harga Minyak Melambung Lagi

Rabu, 20 Agustus 2008 - 08:39 wib
text TEXT SIZE :  
Candra Setya Santoso - Okezone

NEW YORK - Harga minyak mentah dunia kembali menguat, setelah hari sebelumnya naik di atas level USD114 barel menyusul melemahnya dolar AS terhadap euro.

Pada perdagangan Selasa 19 Agustus waktu setempat, harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman September naik menjadi USD114,53 di New York Mercantile Exchange, setelah sempat bergerak fluktuatif di awal perdagangan.

Sejak awal perdagangan, harga minyak mentah langsung melemah setelah badai tropis Fay tak sampai menyentuh fasilitas produksi minyak AS di Teluk Meksiko, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap pasokan minyak.

Namun, sejumlah analis seperti dikutip dari Associated Press (AP), Rabu (20/8/2008), harga emas hitam itu kemudian melonjak lebih dari USD3 per barel, yang tampaknya didorong aksi beli teknikal di pasar energi, kata sejumlah analis.

Pendorong naiknya harga minyak kemarin juga akibat melemahnya dolar AS terhadap euro. Nilai tukar dolar terhadap euro menjadi USD1,4783, naik dari USD1,4697 pada perdagangan sehari sebelumnya.

Melemahnya dolar mendorong investor mengalihkan investasi mereka ke bursa berjangka untuk mencari komoditas termasuk minyak. Ini dilakukan sebagai bentuk hedging terhadap tingginya inflasi atau melemahnya dolar AS. Tapi harga minyak ini sepertinya belum akan melambung terlalu tinggi jika melihat konsumsi di AS dan Eropa serta negara-negara industri lain di Asia menunjukkan penurunan.

Meski analis Petromatrix Olivier Jakob, di Swiss mengatakan, terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa harga minyak saat ini telah menyentuh level terendahnya, terutama ketika di pasar momentum beli semakin berkurang.

Melihat fundamental minyak, kata Jakob, pasar masih melihat kebutuhan besar akan minyak yang cukup besar oleh China untuk menambah cadangan selama penyelenggaraan Olimpiade Beijing.

Apalagi Venezuela mengatakan mereka siap mengajukan usul untuk memangkas produksi minyak pada pertemuan OPEC mendatang jika harga minyak mentah terus melemah.

Belum lagi dengan belum meredanya konflik antara Rusia dan Georgia setelah Rusia ditengarai telah memasang peluncur roket di wilayah separatis Ossetia Selatan. (rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4