JAKARTA - Krisis kelistrikan yang terjadi di seluruh penjuru Indonesia direspons sebagai ceruk bisnis bagi kerajaan usaha asal India, Grup Tata.
Bahkan, perusahaan yang tengah menggeliat di Asia ini telah ketuk pintu, dengan menyatakan minatnya kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla.
Menurut Direktur Tata Steel Ltd Oo Soon Hee, Group Tata telah berdiskusi dengan Wapres mengenai beberapa kemungkinan peluang bisnis di Indonesia.
"Pak Wapres memberikan nasihat yang begitu berharga bagi kami. Ini kesempatan bagi Tata Group untuk mendapatkan saran yang bagus dari beliau. Kita akan mengupayakannya. Kita mempertimbangkan kemungkinan untuk investasi," ujarnya, usai berdiskusi dengan Wapres, di Istana Wapres, di Jakarta, Kamis (21/8/2008).
Oo Soon Hee menyatakan, saat ini Group Tata tengah mempelajari beberapa alternatif investasi. Sebab, Tata sendiri memiliki anak usaha di berbagai sektor.
Sekadar diketahui, jerat bisnis Tata terdiri dari 96 anak perusahaan, antara lain sektor automotif, power plant, baja, dan kimia. Group Tata telah menggebrak dunia bisnis global sejak delapan tahun silam. Saat ini perusahaan tersebut memperkerjakan 350 ribu karyawan yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Sekira 61 persen usahanya, berbasis di luar India.
"Kita belum pelajari biayanya. Kita belum bisa berikan nilainya, itu terlalu dini. Tapi jika memungkinkan, kita akan investasi di sektor energi listrik," imbuhnya.
Ketika disinggung apakah Group Tata juga berminat untuk berinvestasi di perusahaan baja andalan Tanah Air, PT Krakatau Steel, Oo Soon Hee hanya menjawab gamblang, "Kita melihat kesempatan untuk mendorong industri baja untuk lebih maju di Indonesia."
(rhs)