ekonomi global


Si Emas Hitam Nyaris Sentuh USD115

Kamis, 21 Agustus 2008 - 08:11 wib
text TEXT SIZE :  
Candra Setya Santoso - Okezone

NEW YORK - Harga minyak mentah dunia lagi-lagi kembali menguat mendekati level USD115 per barelnya. Saat ini pelaku pasar fokus pada kemungkinan ancaman tersendatnya suplai.

Rebound harga minyak pada perdagangan Rabu 20 Agustus waktu setempat, sedikit mengejutkan. Karena pelaku pasar tidak mengindahkan peningkatan tajam impor minyak AS dan juga menguatnya melemahnya dolar AS.

Departemen Energi AS melaporkan bahwa cadangan minyak AS pada pekan yang berakhir 15 Agustus mencapai 9,4 juta barel. Namun, para pelaku pasar masih khawatir dengan masih berlangsungnya musim badai, yang sewaktu-waktu dapat menyerang fasilitas produksi minyak AS di Teluk Meksiko.

Selain itu, ketegangan antara Rusia dan Georgia yang masih belum tuntas serta ditambah lagi dengan pemutusan hubungan militer antara Rusia dengan NATO. Tentu ini akan membuat pelaku pasar cemas terhadap pasokan minyak dari wilayah Kaspia ke Eropa.

Atas dasar itulah maka harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman September naik 45 sen menjadi USD114,98 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah sempat melonjak ke USD117,03 sebelum data cadangan minyak diumumkan.

Sementara harga kontrak untuk pengiriman September habis tenggat waktunya, Rabu, dan kini berlaku harga kontrak untuk Oktober yang berada di level USD115,56 per barel.

Analis Goldman Sachs mengatakan, bahwa saat ini harga minyak sudah tidak terlalu berkorelasi dengan nilai tukar dolar AS, sehingga ada faktor lain yang mempengaruhi pergerakan harga minyak mentah dunia.

"Dengan mengacu pada fundamental di pasar minyak, maka saat ini komoditas ini masuk ke wilayah yang mendukung kenaikan harga," kata analis Goldman Giovanni Serio.

Di luar faktor musim badai dan ketegangan geopolitik, pertumbuhan negara-negara di luar AS yang begitu cepat juga mendorong permintaan minyak yang tinggi, dan tentunya berpotensi melambungkan harga minyak.

Dari kondisi ini, tentu saham-saham berbasis tambang dan komoditas lain yang bakalan ketiban rezeki. (rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4