NEW YORK - Harga minyak mentah lagi-lagi melonjak lebih dari USD5 per barel mencapai level tertinggi dalam dua pekan terakhir, menyusul kecemasan terhadap pasokan minyak dari Kaspia ke Eropa akibat konflik Rusia-Georgia.
Melemahnya dolar AS dan kekhawatiran akan pengurangan produksi OPEC juga ikut mendongkrak harga minyak mentah dunia, pada Kamis 21 Agustus waktu setempat.
Begitu juga dengan kesepakatan antara AS dan Polandia untuk memasang sistem perisai rudal, yang tentu membuat marah Rusia. Kemarahan Rusia ini dikhawatirkan akan mempengaruhi jalur pasokan minyak ke Barat, karena Negeri Beruang Merah itu menguasai kawasan Laut Kaspia.
"Masyarakat akhirnya tahu bahwa situasi Rusia ini memiliki potensi memicu hal buruk untuk jangka panjang," kata Addison Armstrong, direktur riset pasar di Tradition Energy, Stamford, Connecticut, seperti dikutip dari Associated Press (AP), Jumat (22/8/2008).
Harga minyak menah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober melambung USD5,62 menjadi USD121,18 per barel di New York Mercantile Exchange setelah sesi sebelumnya sempat menyentuh level USD122,04, level tertinggi sejak 4 Agustus lalu.
Kenaikan harga minyak mentah itu langsung mendongkrak harga komoditas lainnya, seperti emas hingga tembaga.
Sekadar diketahui, Rusia adalah produsen minyak terbesar kedua dunia setelah Arab Saudi. Negeri itu memasok seperempat minyak ke kawasan Uni Eropa dan 50 persen produksi gas alamnya juga diekspor ke Barat.
Jika pasokan dari Rusia terhenti, maka itu akan memaksa Eropa mencari sumber energi lain di luar Rusia. Padahal cadangan di wilayah lain juga semakin ketat.
"Jika kegiatan militer kembali meningkat, pasokan minyak ke Eropa akan terganggu dan itu juga akan mempengaruhi Amerika Serikat," kata President of Energy Consultancy Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, di Galena, Illinois.
Sementara di London, harga minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Oktober naik USD5,80 menjadi USD120,16 per barel.
(rhs)