Economy


Harga Minyak Melorot Hingga USD114,59

Sabtu, 23 Agustus 2008 - 09:34 wib
text TEXT SIZE :  
Candra Setya Santoso - Okezone

NEW YORK - Setelah sehari sebelum harga minyak mentah melonjak hingga di level USD122 per barel, kini emas hitam itu kembali melorot di level USD114,59 per barel.

Penurunan hingga lebih dari USD6 per barel itu adalah kemerosotan dalam hampir empat tahun terakhir. Kejatuhan harga minyak di New York, Jumat (22/8/2008) itu dipicu oleh kembali menguatnya dolar AS dan penarikan mundur pasukan Rusia dari wilayah Georgia.

Harga minyak mentah jenis light sweet untuk pengiriman Oktober turun USD6,59, atau 5,43 persen, menjadi USD114,59 per barrel di New York Mercantile Exchange. Itu menjadi penurunan harga terbesar dalam sehari sejak 27 Desember 2004 lalu yang ketika itu harga minyak anjlok 6,7 persen.

Penurunan harga minyak yang cukup dalam itu sebagai reaksi dari 'menghijaunya' kembali greenback dan harapan meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Georgia menyusul ditarinya pasukan Rusia dari wilayah negeri tetangganya itu, Jumat..

Selain itu, ucapan bos Federal Reserve Ben Bernanke yang akan melakukan langkah penting untuk mengendalikan inflasi, langsung disambut dengan penguatan dolar dan kemudian berimbas pada pasar modal.

"Ketika dolar lesu, semua investor memburu saham komoditas untuk mengamankan investasi mereka, tapi ketika dolar melonjak lagi, mereka buru-buru melepas saham komoditas itu lagi," kata Phil Flynn, analis di Alaron Trading Corp. di Chicago.

Namun, harga minyak ini sewaktu-waktu berpeluang bergejolak lagi, karena ketegangan Rusia dengan Barat, khususnya AS, belum sepenuhnya reda setelah kesepakatan penarikan mundur dari Georgia.

Kerikil hubungan Rusia-Barat masih terasa mengganggu setelah AS sepakat memasang sistem perisai rudal di Polandia, yang berjarak tak lebih dari 120 mil dari Rusia.

Sistem penangkal rudal itu dinilai Rusia akan membahayakan wilayahnya, meski AS menjamin dan memastikan bahwa penempatan sistem perisai rudal itu hanya untuk mengantisipasi serangan rudal dari Iran.

Lalu mengapa ketegangan di kawasan itu sampai harus mendongkrak harga minyak mentah dunia. Tentu saja karena Rusia adalah produsen minyak terbesar kedua setelah Arab Saudi. Negeri Beruang Merah itu memasok 25 persen kebutuhan minyak di Eropa Barat dan 50 persen produksi gas alamnya.

Coba bayangkan, apa yang akan terjadi jika Rusia sampai marah dan memutus pasokan minyak ke Barat? Eropa akan terganggu ekonominya karena produksi di sektor manufaktur dan sektor lainnya yang bersandar pada minyak tak bekerja optimal akibat ketiadaan bahan bakar.

(rhs)

o1 o2

Berita Lain

o3 o4