Fiskal & Moneter


Inflasi Agustus Ditaksir di Bawah 11,9%

Senin, 25 Agustus 2008 - 16:50 wib
text TEXT SIZE :  
Nuria - Okezone

JAKARTA - Pengamat ekonomi dari UI Bambang PS Brodjonegoro juga mengatakan, kenaikan harga gas elpiji ini tidak akan memberi sumbangan terhadap inflasi. Namun, pemerintah harus bisa menjamin pasokan gas dan distribusi elpiji di daerah.

"Pengaruh kenaikan elpiji terhadap inflasi tentu ada, meskipun tidak besar. Kalau pemerintah bisa antisipasi dengan pasokan yang cukup dan distribusi yang lancar saya rasa inflasi bisa diredam," ujar Bambang di sela Seminar Reformulating Regional Development in Indonesia di Gedung Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Senin (25/8/2008).

Sementara itu, pada bulan-bulan sebelumnya, kenaikan harga BBM akhir Mei ikut memicu inflasi. Sumbangan kenaikan harga BBM terhadap inflasi sudah mencapai puncaknya pada inflasi Juli.

Bambang optimistis, tingkat inflasi pada Agustus akan berada di bawah 11,9 persen. "Asal pasokan bagus," katanya.

Menurutnya, peran daerah penting untuk mengendalikan inflasi, khususnya memastikan pengendalian distribusi dan pasokan BBM di tiap-tiap daerah.

Di sisi lain, kenaikan harga elpiji tidak akan menambah tekanan inflasi, asalkan tidak terjadi hambatan pendistribusian elpiji.

"Kalau distribusinya lancar, tidak akan menjadi masalah," tegas Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.

Seperti diketahui, mulai hari ini PT Pertamina menaikkan harga elpiji kemasan 12 kilogram dan 50 kilogram. Elpiji 12 kilogram naik dari Rp63 ribu per tabung menjadi Rp69 ribu per tabung.

Sedangkan elpiji ukuran 50 kilogram dari Rp343.900 per tabung menjadi Rp362.750 per tabung.

Sebelumnya, harga elpiji kemasan 12 kilogram naik dari Rp4.250 per kilogram menjadi Rp5.250 per kilogram pada 1 Juli 2008.
(ade)